Sabtu, 30 November 2013

Perlukah alasan untuk mencintai?

PERLUKAH ALASAN UNTUK MENCINTAI?

By. Satta Peranginangin




Mungkin anda pernah mendengar cerita ini, tapi akan saya ceritakan kembali dengan versi saya sendiri. Suatu ketika seorang istri menanyakan kepada suaminya apa alasan suaminya mencintai dia. Tapi suaminya tersebut tidak bisa memberikan alasannya. Di lain kesempatan istrinya tetap berulang kali menanyakan apa alasan suaminya mencintai dia tapi sang suami tetap tidak bisa memberikan jawabannya. Akhirnya sang istri ngambek dan membanding-bandingkan suaminya dengan suami teman-temannya yang punya alasan untuk mencintai istrinya masing-masing. Akhirnya suaminya berkata, “Aku mencintai kamu karena kamu cantik, suaramu merdu, dan kamu selalu memperlakukanku dengan baik.” Sang istri merasa tersanjung dan tersenyum puas atas jawaban suaminya.
Suatu ketika sang istri jatuh sakit, badannya lumpuh dan tidak mampu berbicara lagi, hanya bisa berbaring saja di tempat tidur. Suaminya dengan sabar dan telaten merawat istrinya tanpa pernah mengeluh. Sang istri hanya bisa memandang suaminya dengan mata berkaca-kaca penuh haru. Lalu suatu ketika sang suami duduk di sisi istrinya dan berkata dengan lembut, “Sayang, kamu selalu mendesakku, menanyakan apa alasanku mencintai kamu. Tapi jika seandainya alasan yang aku berikan waktu itu adalah benar alasan aku mencintai kamu tentunya aku sudah meninggalkanmu sekarang. Lihat dirimu sekarang, wajahmu yang pucat ini sama sekali tidak cantik lagi, kamu tidak bisa mengeluarkan suara merdumu lagi, dan bagaimana bisa kamu memperlakukanku dengan baik lagi jika menggerakkan tubuhmu saja kamu tidak bisa? Tapi aku tidak meninggalkanmu, karena bukan itu alasan aku mencintai kamu. Perlukah alasan untuk mencintai kamu? Satu-satunya alasan kenapa aku mencintai kamu adalah karena aku cinta kamu.”
Dari cerita di atas bisa disimpulkan bahwa “Cinta itu tidak perlu alasan”. Hmmm… benarkah demikian? Tapi menurut saya cinta itu punya alasan. Apa alasannya? Cekidot!
Tapi sebenarnya saya agak ragu lebih baik memakai kata “cinta” atau “sayang” saja, karena sebenarnya susah juga membedakan makna kedua kata tersebut. Dan semua orang yang saya tanya tidak pernah memberikan  jawaban yang memuaskan saya akan apa definisi cinta itu. Intinya cinta itu selalu lebih “dalam” dari sayang. Bahkan dalam bahasa Inggris, cinta dan sayang itu gak pernah diterjemahkan dalam dua kata yang berbeda, hanya ‘Love’ saja. Juga dalam beberapa bahasa daerah yang saya tau, tidak ada perbedaan terjemahan cinta dan sayang itu kedalam dua kata yang berbeda. Tapi agar anda merasa puas, lebih baik saya memakai kata ‘cinta’ saja.
Kembali ke pokok bahasan. Apakah cinta punya alasan?
Saya sering melihat seorang anak yang menderita down syndrome dengan fisik yang tidak sempurna dipapah dan dipeluk ibunya dari belakang, melangkah perlahan-lahan, setapak-demi setapak, dengan sabar si ibu mengimbangi langkah pelan si anak dan mengantarkannya sampai ke sekolah. Saya selalu kagum melihat hal itu. Kalau itu benar cinta, berarti luar bisaa kekuatan cinta itu. Kalau benar cinta itu tanpa alasan, berarti terbukti sudah karena seharusnya tidak ada alasan bagi ibu itu untuk mencintai si anak yang tidak bisa memberikan apa-apa kepada dia. Tapi kemudian saya melihat perbedaan, kenapa ibu itu tidak memperlakukan hal yang sama pada anak “tidak sempurna” yang lain? Bukankah anak yang lain itu juga tidak ada bedanya dengan anaknya? Sama-sama tidak bisa memberikan apa-apa kepada dia. Jika cinta tidak punya alasan seharusnya ibu itu juga mencintai anak yang lain itu dong. Dan lalu saya temukan alasannya, ibu itu tidak memperlakukan dengan sama anak yang lain adalah karena mereka bukan anak ibu itu!
Lalu saya menemukan fenomena yang lain. Sepasang insan yang berpacaran dan katanya saling jatuh cinta bahkan sudah sering tercetus kalimat ‘I love you forever… ever and ever’, lalu suatu ketika mereka putus hubungan, saling ‘move-on’ dan hilanglah cinta itu. Begitu juga dengan setiap pasangan lain baik yang berpacaran ataupun menikah, mereka bakal dengan mudah melupakan cinta itu setelah mereka dapat pengganti!
Dari berbagai hal tersebut akhirnya saya temukan alasannya. Ibu itu mencintai si anak karena itu adalah anaknya. Seseorang mencintai pacarnya karena itu adalah pacarnya. Suami mencintai istri karena itu adalah istrinya. Bahkan saya mencintai motor butut saya karena itu adalah motor saya. Dan akhirnya saya menyimpulkan apa alasan saya mencintai. Saya mencintai apa yang saya miliki. Saya akan mencintai kekasih saya karena dia adalah kekasih saya.
Jadi, anda sudah menemukan alasan untuk mencintai bukan? Cintailah kekasih anda, cintailah suami/istri anda, cintailah orang tua anda, cintailah teman-teman anda, cintailah pekerjaan anda, cintailah apa yang ada pada diri anda. Jangan menujukan cinta anda ke tempat yang salah, misalnya mencintai istri orang. Jika anda berpisah dengan kekasih anda, artinya anda tidak punya alasan lagi untuk tetap mencintai dia, lanjutkan hidup anda dan cintailah kekasih anda selanjutnya. Karena alasan anda untuk mencintai adalah karena anda memilikinya.
            Salam cinta ;-)

Read more...

Sabtu, 23 November 2013

Perwujudan Aksara Hati

Kumpulan Puisi karya Satta Peranginangin



Kecamuk Rindu Dendam

Mentariku ada tapi tak bisa kunikmati sinarnya
Lautan ini pun tak kuasa kurenangi
Hanya kecamuk rindu dendam membunuh kalbu
Kadang kuat, kadang lemah, kadang tegar, kadang rapuh
Kadang seperti ayah yang tak romantis
Hanya mengerti menafkahi dan menantang dunia
Kadang seperti anak kecil
Hanya menangis merindukan gurauan
Bintang fajar itu telah letih bersembunyi
Dia juga ingin menyinari bumi...



Sesal

Telah kulahirkan batu neraka
Dari untaian kata-kata merdu tanpa suara
Dan kurajam dengan perih tanpa luka
Menyabik jantung bayi-bayi lemah gemulai tanpa daya
Tapi... Nuranikah dia?
Yang menghujamkan sesal tiga puluh liang ke ulu dada?
Tangis tanpa air mata pecahkan tanya di tangga usia.
Only God Can Judge Me!


Karya Abadi

Kau Pinta kulahirkan puisi
Larik kalimah nan menyanjung hati
Namun, bilakah ia masih berarti
Tatkala telah kau baca berulang kali?
Kau pinta kukaryakan sajak rindu
Bait kalimah nan membuai kalbu
Tapi, akankah kau paham selalu
Makna yang ingin kutuangkan padamu?
Tiada lagu yang selamanya disukai
Begitupun puisi yang bagimu kurangkai
Karena itu, apalah guna kucipta nanti 
Bila akhirnya takkan abadi
Andaipun kugoreskan sepenggal karya
Takkan pernah wujudnya sempurna
Karena takkan cukup hanya kata
Sebagai wali hati dan rasa
Tuk menggambarkan warnamu disana
Mampukah puisiku melampaui indahmu?
Akankah sajakku memuaskan hasratmu?
Bagiku, kaulah karya abadi
Yang selalu ingin kuresapi
Dan kubingkai indah dihati
Karena kaulah puisi terindah untukku
Dan akulah sajak cinta terbaik untukmu

 
Bila Kau Bimbang

Bila tumbuh bimbangmu akan setiaku
Yakinlah tak berpaling aku
Kala meragu pikirmu akan tulusku
Percayalah tak berdusta aku
Namun bila emosi taklukkan kita
Bibir pun tajam menusuk dada
Kau biarkankah hati menangis?
Puaskah batinmu kala dia teriris?
Tiada hidup tanpa masalah
Tiada cinta tak pernah marah
Tapi perahu nan berkali dibentur karang
Mesti karam, tenggelam, tak mampu mengambang
Impianku, tujuan kita setia mengarah
Labuh di dermaga tiada gundah
Niscaya cinta pasti bertahan
Karena cinta adalah kekuatan
Tapi bila itu telah tiada
Usah dipaksa asmara kita
Karena kita takkan berlayar tanpanya


Karena Kau Adalah Kau 

Menunduk hatiku trenyuh luluh
Menyanjung puisi nan kau ukir
Sesaat terhilang asa laksana kayu rapuh
Namun lekas memekar semangat bak pucuk tumbuh
Terselip sebuah harapan nun jauh digaris waktu
Takkan tangan berpangku menangisi keinginan takdir
Tulislah sebuah narasi tentangmu
Bukan fiksi pengantar tidur jiwa-jiwa yang sepi
Tapi Rangkailah ode kepahlawanan
Motivator bagi jiwa-jiwa yang lemah
Yang kelak menjelma hymne bagi para pejuang hidup
Berteriaklah...
Mengamuklah...
Cabik kafan yang menutup mata
Pandang kekuatan yang memberimu hidup
Lepaskan belenggu yang merantai kaki
Berlarilah terus kedepan
Hancurkan tembok batasan-batasan impian
Dan percayalah
Kau akan menang
Karena kau adalah kau!


Kesialan Yang Kurindukan

Ketika aku terjatuh kedalamnya...

Maka aku tak mampu lagi memegang teguh
Prinsip-prinsip hidupku selama ini


Aku mengabaikan logika

Yang kujadikan panutan dalam hidupku
Bahkan aku tidak memperdulikan kekurangannya
Yang selama ini dalam hidupku

Merupakan hal-hal yang ku anggap harus kujauhi

Lalu...
Saat kehilangannya...


Aku terpaksa mengakui 

Bahwa aku tidak setegar yang selama ini kusombongkan!

Inilah penyakit yang disebut "cinta"


Dan ketika hal ini menderaku
Kuakui aku memang sedang ketimpa sial!


Kesialan yang akan kurindukan lagi
Entah kapan akan menghampiriku lagi...

Read more...

Goresan Tangan

  Juara Favorit pada lomba karikatur Hari Kemerdekaan RI
Dimuat pada Harian Posmetro Medan tanggal 25 Agustus 2005



Juara Favorit pada lomba karikatur Hari Kemerdekaan RI
Dimuat pada Harian Posmetro Medan tanggal 25 Agustus 2005



 Dimuat pada kolom TURTIKUS Harian Posmetro Medan tanggal 5 Agustus 2005



 Dimuat pada kolom TURTIKUS Harian Posmetro Medan tanggal 5 Agustus 2005

Read more...

Panglatu


PANGLATU

Sebuah Cerpen karya Satta Peranginangin


Panglatu! Alias Panglima Lajang Tua! Istilah yang kerap dipakai di kota Medan dan sekitarnya ini sering dipakai untuk menyindir orang yang sudah cukup berumur tapi tidak kunjung juga mempunyai pasangan atau… bisa juga diperuntukkan bagi orang yang belum menikah di saat usianya sudah seharusnya menikah. Yah, seperti diriku yang sampai sekarang ini sudah berumur dua puluh lima tahun tapi tidak pernah merasakan yang namanya pacaran apalagi menikah! Gimana bisa menikah, wong pacaran aja kagak pernah?
 Sangat ingin rasanya aku juga merasakan pahit-getir, asam-manis dalam bercinta. Bagaimana sih rasanya kalau punya seseorang yang memperhatikan, menyayangi dan mengucapkan kata-kata mesra membuai setiap hari? Pasti pengalaman seperti itu rasanya sangat sukar diungkapkan dengan kata-kata seperti cerita teman-temanku yang sering curhat kepadaku. Tapi sampai sekarang diriku hanya cukup sebagai pendengar yang setia dan penonton yang budiman menyaksikan orang lain dan teman-temanku menjalani kisah cintanya. Bahkan dalam setahun mereka bisa berganti kisah cinta sampai dua atau tiga kali sedangkan diriku belum pernah sekalipun menikmatinya selama umur hidupku yang telah kujalani ini. Cukuplah diriku hanya menyandang gelar ‘panglatu’ yang dianugerahkan oleh teman-temanku atas prestasiku memecahkan rekor tidak pernah pacaran selama dua puluh lima tahun hidup di dunia ini. Eits, jadi panglatu nggak selamanya buruk, lho. Minimal aku belum pernah merasakan yang namanya patah hati karena putus cinta! He he he…
Sebenarnya aku tahu apa masalahku. Masalah yang sangat klise dan umum di kalangan pria-pria loser seperti diriku. Aku ingat saat SMU dulu. Aku menyukai seorang gadis cantik adik kelasku. Setiap hari terbayang akan wajahnya. Nggak siang, nggak malam selalu di hantui wajahnya yang sangat jauh dari kesan wajah hantu. Sampai-sampai sering kubuatkan puisi tentang dirinya tapi puisi itu hanya menumpuk saja di buku catatan tanpa seorangpun yang tahu. Jangankan untuk menyampaikan puisi itu kepadanya, untuk diam di dekatnya lima detik saja aku nggak sanggup. Entah kenapa aku selalu kabur begitu ku lihat dirinya mendekat, selalu berpaling muka jika dia menatapku. Bagaimana mungkin dia mengetahui diriku jika keberadaanku saja tidak kutunjukkan kepadanya? Ck… loser
Pernah juga ada seorang gadis manis yang tinggalnya nggak jauh dari tempat tinggalku. Selalu ku perhatikan kegiatan rutinnya, setiap sore selalu berjalan dari sebuah jalan utama di pasar tradisional dekat rumah. Karena itu aku bertekad akan mencegat dia di tengah jalan dan pura-pura tidak sengaja berpapasan dengannya lalu aku akan mengajaknya ngobrol. Tapi setelah dia nongol entah kenapa aku malah kabur! Kenapa? Sama setan aja aku nggak takut, tapi kenapa aku malah kabur begitu melihat malaikat? Ck… dasar loser
Tapi sebenarnya ada beberapa gadis yang suka kepada diriku, berhubung wajahku nggak jelek-jelek amat. Kata orang wajahku lebih ganteng dikitlah dari wajah Tukul. Tapi gadis-gadis yang mendekat itu selalu aku rasa kurang inilah, kurang itulah, dengan kata lain jelek terlihat secara fisik di mataku (maaf bagi gadis-gadis yang merasa dirinya jelek, karena itu jangan pernah merasa diri anda jelek). Intinya begini, kenapa setiap gadis yang ku suka tidak mendekat kepadaku? Kenapa justru gadis yang tidak ku suka yang datang mendekat? Dan… anehnya lagi, pada saat gadis yang tidak ku suka itu telah pacaran dengan laki-laki lain justru disaat itu aku merasa cemburu, patah hati dan merasa telah membuang kesempatan berharga selama ini. Sekali lagi, dasar loser!
    Dan saat ini aku bertekad untuk tidak jadi seorang loser lagi. Aku harus pede dan berani buka mulut saat berbicara dengan wanita! Tapi kenyataannya tekadku ini sudah berulang-ulang kali ku ucapkan dalam hati sejak bertahun-tahun yang lalu, berulang dan terus berulang setiap kali aku kabur dari dari gadis. Artinya, selalu ada tekad tanpa pembuktian! Aku masih saja terus melarikan diri! Dasar loser sejati!

* *** *

Suatu pagi ketika sedang naik angkot hendak berangkat kerja aku melihat seorang gadis cantik berpakaian rapi berjalan tergesa-gesa menyusuri trotoar. Lalu aku ingat kalau wajahnya sepertinya pernah aku kenal. Kalau nggak salah dia adalah adik kelasku di SMU dulu. Gadis yang dulu menjadi cinta terpendamku. Tapi aku ingin memastikannya sekali lagi.
Beberapa hari kemudian aku melihat dia berjalan lagi di tempat yang sama. Aku jadi yakin kalau dia bekerja di suatu tempat di sekitar situ. Kali ini aku harus berhasil mengajak dia ngobrol. Tak ada kata loser lagi! Tekadku sudah kuat!
 Esok harinya aku berangkat lebih awal dari biasanya. Aku sengaja menunggunya di tempat dia biasa melintas. Aku berencana pura-pura sedang berjalan di jalan itu dan kebetulan berpapasan dengannya lalu aku akan menyapanya. Mantap! Aku sudah sangat pengalaman menjalankan rencana serupa sejak dulu kala walaupun tidak pernah berhasil. Tapi kali ini lain ceritanya, masa aku harus mau terus menerus jadi panglatu?
Kutunggu-tunggu, lama ku menunggu sampai berkali-kali sudah ku putar ulang lagu ‘menunggumu’ dari Ridho Rhoma namun tak kunjung juga gadis itu menunjukkan batang hidungnya. Mungkin aku yang terlalu cepat datang ya? Daripada bosan berdiri, kudatangi warung penjual rokok dan aku beli rokok sebatang walaupun sebenarnya aku bukan perokok. Mungkin karena gelisah, ku hisap rokok itu. Tapi baru beberapa kali hisap disertai beberapa kali batukan, di ujung jalan sana kulihat yang kutunggu sudah datang. Segera ku buang rokok yang tidak enak itu. Lalu aku bergegas menjalankan rencana dengan jantung bak dipalu seribu godam bertalu-talu bunyinya. Aduh, mak… Doakan aku ya, mak…
Aku berjalan dengan langkah mantap sambil pura-pura tidak melihatnya berjalan mendekat ke arahku. Lalu kulihat dia sudah menatapku dari jauh. Begitu tiba di depanku segera kusapa, “Hei…” dengan acting seolah-olah aku terkejut melihat dia.
“Hei juga,” katanya sambil mengernyit.
“Kamu kenal dengan aku nggak?” tanyaku berharap dia ingat akan wajahku ini.
“Siapa ya?” tanyanya sambil tersenyum keheranan.
Wah, malu juga hatiku mengetahui dia tidak bisa mengingat diriku. Mungkin aku juga yang salah pada jaman dulu kala tidak pernah berani menampakkan diri di hadapannya. “Aku Anca, ”kataku. “Kamu Erni, kan? Dulu sekolah di SMANSAGI?” tanyaku lagi.
“Lho, kok tahu?” tanyanya heran.
“Aku dulu abang stambuk kamu,” kataku menjelaskan.
“Oya? Aku kok nggak ingat, ya?” tanyanya sambil memperhatikan wajahku. Wah, malunya aku ternyata dia nggak mengenali wajahku. Mau kutaruh dimana wajahku ini? Kalau ku taruh di saku celana pasti nggak muat, he he. Aku hanya bisa garuk-garuk kepala karena memang gatal soalnya tadi pagi nggak sempat shampoan karena buru-buru mau stand by kemari.
Belum sempat aku berkata-kata lagi, dia langsung meneruskan, “Tapi aku pergi kerja dulu, ya. Soalnya aku buru-buru, takut telat,” katanya lalu bergegas pergi tanpa menunggu respon dariku. Tinggallah diriku yang terpana melihatnya berlalu dengan cepat dari diriku begitu saja.
Tapi aku nggak menyerah, tiga hari kemudian kutunggu lagi dia di tempat yang sama dengan modus yang sama. “Eh, ketemu lagi…” sapaku sambil tersenyum. Dia hanya tertawa saja melihatku dan hendak meneruskan langkahnya tapi segera kucegah, “Kamu kerja dimana, sih?” tanyaku.
“Tuh, disana,” jawabnya sambil menunjuk sebuah gedung bank swasta di depan sana. “Sori, ya. Aku tinggal dulu,” katanya lagi sambil meneruskan langkahnya. Ternyata dia nggak suka basa-basi, pikirku. Kalau begini, pasti bakal sulit rasanya mengakhiri status panglatu ini…
Kalau kejadian seperti ini terjadi lima tahun yang lalu pasti aku sudah mengundurkan diri tapi kini berbeda ceritanya. I’m different now! Lima hari lagi aku tunggu dia di tempat yang sama. Aku sengaja nggak datang tiap hari agar tidak terkesan bahwa aku sengaja menunggunya. Gengsi dong!
“Hei, jumpa lagi,” kataku begitu berpapasan dengan dia.
“Hei juga,” katanya sambil tersenyum sebentar lalu bergegas melangkah pergi dengan buru-buru meninggalkanku tanpa banyak cengkonek. Aku pun pergi dengan perasaan duka seperti habis nonton film Korea yang sediiiihhh banget ceritanya. Memang susah ya dapat pacar jaman sekarang ini? Jangankan untuk dapat pacar, agar bisa berteman akrab saja dengan cewek sulitnya minta ampun!
Dua hari kemudian kujumpai lagi dia ditempat yang biasa masih dengan modus yang biasa dengan kalimat pembuka yang biasa (sepertinya aku memang kurang kreatif barangkali, ya?) dan dijawabnya sekedar saja tanpa basa-basi dan berlalu begitu saja seperti biasanya. Mungkin dia memang terbiasa nggak pintar ngomong barangkali, ya? Atau memang aku yang nggak terbiasa memancing wanita agar berbicara denganku. Mungkin juga, sih…
Akhirnya aku menyerah. Aku takkan berusaha menemuinya lagi. Persetan dengannya, masih banyak wanita di dunia ini! Lagian kan di dunia ini lebih banyak cewek daripada cowok, nggak mungkinlah aku kehabisan jatah, he he. Dan kebetulan sekali, berhubung karena rumah kontrakanku sudah habis masanya maka aku harus pindah dari tempat lama ke kontrakan baru. Aku takkan melalui jalan itu lagi, jadi pasti aku takkan melihatnya lagi. Baguslah, aku bisa melupakannya.

* *** *
           
Saat aku sudah mulai menikmati suasana baru di tempat tinggal baru dan tentunya mulai memasang target baru tiba-tiba terlihat lagi olehku target lamaku yang gagal ku tangkap dulu. Siapakah dia? Yak, dia adalah Erni. Aku melihatnya sedang menunggu angkot di suatu pagi. Kebetulan saat itu aku sedang sarapan lontong sayur di sebuah warung. Jantungku kembali dag dig dug dengan kerasnya. Apakah ini yang namanya jodoh? Hmm, memang yang namanya jodoh takkan kemana.
Esok harinya aku bangun lebih pagi dan siap siaga bak tentara menunggu kedatangan musuh. Bedanya, tentara bersembunyi di balik semak belukar sedangkan aku bersembunyi di warung lontong. Tapi yang enaknya, sambil menunggu sasaran bisa sambil makan lontong. Tapi lontong yang enak pun terasa hambar saking tegangnya diriku menanti sang calon pujaan hati. Cabe rawit yang pedas pun terasa tawar jadinya.
Begitu dia terlihat di depan mata segera aku beranjak sampai lupa minum dan lupa bayar sarapan lontong. Untung tukang lontongnya nggak teriak tapi segera mengingatkan untuk bayar. “Mas, aku bikin lontongnya pake modal, lho,” katanya. Setelah membayar segera ku hampiri Erni yang sedang berdiri menunggu angkot.
“Hei, kita jumpa lagi, “sapaku berusaha untuk ramah.
“Hei juga. Kok bisa ya?” tanyanya keheranan.
“Iya, aku baru pindah kemari. Nggak tahunya ternyata kamu juga tinggal di sini, ya? Ternyata kemanapun aku pergi selalu ada dirimu…” candaku.
“Jangan-jangan kamu nguntit aku selama ini, nih,” katanya sambil tertawa.
“Nggak, dong. Yang namanya sudah jodoh, mau sembunyi kemana juga pasti ketemu, deh.”
“Ha ha, bisa aja kamu. Eh, sudah dulu ya. Tuh angkot aku udah datang.” Lalu dihentikannya angkot itu dan bergegas naik. Setelah mengambil tempat duduk di dalam angkot tiba-tiba dia terkejut. “Lho, kamu kok disini juga?” tanyanya terkejut melihat aku telah duduk di sebelahnya. Aku juga sebenarnya nggak kalah terkejutnya ketika menyadari bahwa diriku sudah ikut naik ke dalam angkot tapi segera aku berkilah, “Lho, ini kan angkutan umum, nggak melanggar hukum dong kalau aku ikutan naik.”
Dia hanya tersenyum saja lalu diam. Aku pun diam. Aku berpikir keras bagaimana memulai percakapan dengannya. “Kamu pernah bertemu siapa saja kawan-kawan dari sekolah kita dulu?” tanyaku mencoba membuka topik seakan-akan aku peduli dengan kawan-kawan lamaku dulu padahal aku hanya ingin ngobrol aja dengan dia.
“Hmm, ada sih beberapa. Kawan seangkatanku ada Alex, Very dan Riko. Kawan seangkatan kamu ada Heri dan Vera,” jawabnya.
“Aku juga pernah ketemu dengan mereka. Tapi sayang kita nggak bisa kumpul-kumpul sekedar mengenang masa lalu di sekolah,” kataku.
“Maklumlah semuanya sudah berbeda. Kita semua sudah sibuk sekarang,” katanya menjelaskan.
“Berarti kamu sibuk banget ya? Sehingga kamu selalu terburu-buru kabur tanpa basa-basi setiap kali kita ketemu?” tanyaku sambil tertawa.
Dia pun tertawa, lalu menjawab, “Aku baru saja diterima kerja di Bank itu. Jadi aku ingin menunjukkan disiplin yang baik. Masa baru kerja sudah berani terlambat? Ntar deh terlambatnya kalau udah bosan kerja disana,” tawanya lagi.
“Aku kira kamu takut sama aku.”
“Iya, sedikit…” jawabnya tersenyum.
Aku pun tertawa. Melihat responnya, aku pun semakin berani berbicara, “Sebenarnya aku bertemu dengan kamu begini bukan kehendakku. Aku nggak peduli dengan kamu, karena aku bukan penggemar kamu. Tapi aku ini adalah orang baik yang ramah dan bersahabat kepada siapa saja,” kuhentikan bicaraku dan kupandang dia. Dia hanya mengernyit heran. Lalu ku lanjutkan lagi, ”Jadi sebagai orang yang ramah dan tidak sombong sudah sepatutnya aku ramah dan menyapa kamu apalagi mengingat kalau kamu ini adalah adik kelasku dulu. Lagian aku berencana mengadakan reuni SMU dalam waktu dekat ini. Jadi aku minta nomer hape kamu agar kamu masukin di hapeku ini,” kataku sambil menyodorkan hape.
“Buat apa nomer hape?” tanyanya.
“Duileh, non. Ya, buat menghubungi kamu lah. Bagaimana aku bisa menghubungi kamu kalau nanti kita mengadakan reuni? Nggak mungkinlah aku tega masukin nomer kamu ke kolom ‘cari jodoh’ di Koran,” candaku. Melihat dia hanya senyum-senyum saja tanpa ada tindakan segera aku berkata lagi, “Kalau kamu nggak mau masukin nomer kamu di hapeku biarlah aku yang masukin nomer aku ke hape kamu. Kemarikan hape kamu.”
“Ha ha, iya – iya. Nggak sabaran amat sih,” tawanya sambil menerima hapeku lalu menuliskan nomernya disitu. Asiiikkk, akhirnya berhasil juga skenario yang kubuat.
“Kalau begitu nanti malam kita makan bareng ya. Udah lama aku nggak cerita-cerita dengan teman sekolah dulu. Lumayan mengingat memori masa muda. Mana tahu nanti setelah kita cerita-cerita kamu malah jatuh cinta sama aku. Tapi kalau nanti kamu udah jatuh cinta, kamu harus berjuang agar bisa mendapatkan aku soalnya saingan kamu banyak,” candaku.
Dia pun tertawa lalu berkata, “Okelah, nanti call saja aku ya.” Mendengar itu jantungku serasa ingin melompat keluar saking senangnya. Ingin kuguncang-guncang angkot ini tapi aku harus jaim dong. Harus terlihat biasa saja seakan itu bukan hal yang luar biasa bagiku.


Akhirnya dia pun sampai di tempat kerjanya dan berpamitan denganku. Hatiku lega bukan main. Sekarang aku sudah naik level, sudah selangkah lebih maju. Aku takkan menyerah, akan kudapatkan dia, tekadku. Kali ini ku akhiri status panglatu ini sampai disini! Lalu tiba-tiba mulutku terasa pedas, ternyata kebanyakan makan cabe tadi waktu sarapan dan lupa minum. Parahnya lagi, aku sadar bakal kena damprat di tempat kerjaku nanti karena aku terlambat, soalnya aku salah naik angkot!

Medan, 3 Agustus 2010



Read more...

Mengejar Gadis Facebook



MENGEJAR GADIS FACEBOOK
Sebuah Cerpen karya Satta Peranginangin


Warnet yang kumasuki ini terlihat sepi, hanya ada operator warnet dan seorang gadis yang duduk dipojokan sana. Maklum masih pagi dan hari libur begini biasanya orang-orang pada malas untuk bangun pagi. Apalagi di lingkungan kampus seperti ini, anak-anak kost pasti masih sedang pulas-pulasnya tertidur lelap dan bahkan mungkin banyak yang sengaja bangun agak siang biar nggak perlu lagi sarapan, itung-itung biar penghematan biaya makan. He he... jadi ingat masa lalu...
”Mbak, komputer mana yang bisa dipakai?” tanyaku kepada gadis operator warnet.
”Yang mana juga bisa, bang. Silahkan pilih yang mana aja, kosong semua kok,” katanya.
”Kalau begitu aku pilih komputer yang mbak pakai itu aja, deh,” kataku menggodanya.
”Wah, jangan. Ntar isi lacinya pada pindah semua ke kantong abang,” candanya.
Dengan tersenyum-senyum kupilih komputer yang paling dekat dengan meja operator. Eh, setelah dihidupkan ternyata monitor nggak mau nyala. ”Mbak, monitor mbak ini kok pada tidur melulu nggak mau dibangunin, sih?”
”Oh, maaf. Mungkin komputer yang itu sudah sampai umurnya. Maklum udah tua,” jawab gadis operator itu bercanda. ”Abang pindah aja deh ke sebelah mbak yang itu,” katanya sambil menunjuk ke arah satu-satunya manusia pengunjung warnet itu. Dengan hati riang seperti anak anjing yang diberi makan oleh majikannya, aku dengan senang hati pindah ke sebelah gadis itu. Lumayan, siapa tahu bisa diajak kenalan...
Sambil bermain Fesbuk (Facebook), sesekali kulirik ke arah gadis di sebelahku. Hmm, ternyata manis juga makhluk yang satu ini. Berkulit putih, berambut panjang, dengan kaos putih bersih dan celana pendek, sungguh suatu pemandangan yang indah untuk mengawali hariku pagi ini.
Setelah mengucapkan kalimat, ”aku berani...aku berani...aku berani...” di dalam hatiku sebanyak dua puluh kali akhirnya kuberanikan diriku untuk menyapa gadis itu, ”Hai, kamu senang fesbukan juga ya?”
Gadis itu menoleh ke arahku, dengan ragu-ragu dia menjawab, ”Iya, sih. Tapi kalau lagi nggak ada kerjaan saja.”
Ya ampun, merdu banget suaranya. ”Oh, begitu ya. Kalau begitu bisa dong aku minta alamat fesbuk kamu biar aku add jadi temanku. Nggak apa-apa, kan? Lumayan biar nambah kenalan.”
Dia diam sejenak, seperti enggan memberikan alamat fesbuknya. Tapi setelah aku pandangi terus dengan memasang wajah lugu tanpa dosa akhirnya diberikannya juga alamat fesbuknya. Mungkin dia sudah yakin kalau tampangku ini bukan tampang penjahat.
Ku buka alamat fesbuknya, ku buka profilnya. Hmm... namanya Vera. Nama yang umum dan standar, ha ha ha. Ku lihat daftar teman-temannya, ternyata temannya sedikit, masih berjumlah sekitar tiga puluhan orang. Hmm... sepertinya dia masih baru dalam dunia fesbuk. Segera ku tambahkan dalam daftar temanku. Setelah itu ku susun lagi rencana dalam hatiku, kalimat apalagi yang akan ku pakai untuk meneruskan obrolan dengan dia, ya? Gadis seperti ini mubazir kalau didiamin saja.
Lalu aku menoleh lagi ke arahnya dan hendak mengucapkan kata tapi saat bibirku baru terbuka, ku lihat komputernya sedang di shut down.
”Maaf, ya. Aku duluan...” katanya sambil tersenyum lalu segera bergegas ke operator warnet, membayar biaya rental, lalu pergi begitu saja tanpa melirik ke arah aku lagi.
Aku hanya bisa melongo memandang kepergian makhluk manis yang bahkan namaku saja sepertinya dia tidak ingin tahu. Kok begitu ya, apakah kegantenganku sudah mulai berkurang?
Esok harinya ku buka lagi fesbukku, ku periksa apakah permintaan pertemananku kemarin sudah diterimanya? Lalu... akhirnya yang kuharap-harapkan ternyata... tidak terjadi! Eh, mungkin belum saatnya terjadi. Barangkali dia belum membuka fesbuknya sehingga dia belum mengkonfirmasi permintaan pertemananku.
Esok harinya lagi, hari kedua. Ku periksa lagi fesbukku. Ternyata nasib masih mempermainkan diriku seperti hari kemarin, ha ha. Kubesarkan hatiku, barangkali dia belum membuka fesbuknya...
Lanjut, hari ketiga. Tak jemu-jemu aku memeriksa fesbukku. Ternyata nasib senang banget mempermainkan diriku. Mungkinkah gadis itu belum online-online juga? Kubesarkan lagi hatiku, maklumlah dia masih anak kuliah, mungkin budget untuk ke warnet minim, jadi pasti dia belum ke warnet. Oh, pasti begitu!
Hari keempat! Ternyata nasib benar-benar sudah terbukti tega banget mempermainkan nasibku! Ku lihat gadis itu sudah meng-update status message terbarunya. Bukan hanya sekali tapi ada tiga kali. Bahkan dia rajin membalas komentar cowok-cowok yang memberikan komentar di statusnya. Ya ampun, ternyata banyak juga sainganku. Tapi kenapa dia belum mengkonfirmasi permintaan pertemanan dariku? Jelas-jelas dia sudah membuka fesbuk! Ah, ternyata memang nilai jualku udah turun sampai-sampai diabaikan oleh cewek... Biar kecewa tapi nggak boleh nangis. Gue kan jantan!
Akhirnya hari-hari terus berlalu sampai tujuh hari dengan kondisi serupa. Aku dicuekin! Ah, biarlah. Gadis sombong seperti itu buat apa juga dijadikan teman? Mungkin dia memang nggak pantas buat kenal dengan orang seganteng diriku. Tapi...kalau aku ganteng kenapa nggak dia konfirmasi juga ya? Nasib...nasib...
Hari-hari berganti. Dua minggu sudah berlalu saudara-saudara! Selama itu juga aku bisa memastikan bahwa dirinya sering online dari hasil pemantauanku terhadap status-statusnya yang silih berganti di-update. Sungguh sakitnya perasanku dicuekin seperti itu saudara-saudara! Tapi aku selalu tertawa dalam hati menghibur hatiku, ha ha ha ha!
Tepat hari ke lima belas, disaat hatiku sudah pasrah menerima kenyataan bahwa diriku sudah nggak laku lagi di dunia perfesbukan, ternyata si doi malah mengkonfirmasi permintaan pertemanan dariku. Whats up? Sebegitu tinggikah kastanya sehingga membutuhkan waktu dua minggu hanya untuk meng-approve diriku? Ck...ck...
Suatu hari saat aku sedang online dan kulihat melalui kolom chat dia juga sedang online, segera kusapa dirinya, ku ketikkan kata yang sederhana; ”Hi... J. Akhirnya ada juga kesempatan ngobrol, nih. Tapi setelah lama kutunggu, dia nggak juga membalas sepatah katapun. Mungkin koneksi internet lagi lambat, pikirku. Ku ketikkan lagi kata yang sama, ”Hi... J.  Tetap nggak di balas. Ku ulangi lagi dengan mengetikkan kata yang sama tapi tetap nggak dibalas.
Akhirnya aku sadar bahwa si nasib memang kejam betul! Teganya dia terus menerus mempermainkan diriku. Masa sampai si cewek off, dia nggak membalas sedikitpun sapaan ramah dariku? Nggak mungkin karena koneksi internet lagi lambat!
Beberapa hari kemudian saat aku melihat dia sedang online, kembali kusapa dirinya dengan kata yang simple dan tidak mujarab seperti biasa, ”Hi... J. Dan seperti biasa lagi, tetap nggak dibalas. Walaupun aku sudah sadar kalau nasib tega banget mempermainkan diriku tapi kok aku nggak jera-jera juga terus berusaha mengawali pembicaraan dengannya? Apakah ini yang dinamakan dengan tidak sadar diri atau tidak tahu malu? Ah, bodoh amat! Kali ini kutambahkan lagi kalimat, ”kamu kok sombong ya?”. Tapi tidak dibalas. Aku nggak menyerah, ku ketikkan pesan di wall-nya, ”Hi, masih ingat nggak denganku? Yang dulu kenalan di warnet, lho.” Namun sepertinya dia memang benar-benar tidak tahu membaca atau bahkan tidak tahu cara mengetik sama sekali sehingga tetap saja dia diam mematung, cuek membebek! Bahkan komentarku pada status fesbuknya pun nggak pernah dia balas.
Suatu pagi saat sedang membeli sarapan lontong sayur di depan kost-an, aku melihat wajah yang tidak asing lagi sedang menyeberang jalan raya. Kuperhatikan, ternyata dia gadis fesbuk yang sombong itu! Lalu dia berhenti di seberang jalan dan menunggu angkot lewat, kelihatannya dia akan berangkat kuliah. Saat dia memalingkan wajahnya ke arahku, segera aku menyembunyikan wajahku di balik rak kaca steling tempat bu Nuri memajang hasil lontongnya – eh, memajang jualan lontong sayurnya!
Beberapa saat kemudian kulirik perlahan kembali ke arah dia sedang menunggu angkot tadi, ternyata dia sudah pergi. Loh, kenapa tadi aku sembunyi? Apa aku malu menunjukkan wajahku yang sudah dia tolak berkali-kali ini? Tapi ada satu kemungkinan yang aku dapat di pagi ini, yaitu kemungkinan bahwa dia tinggal nggak jauh dari tempat aku tinggal.
Esoknya, kembali kubuka fesbukku. Karena dia tidak pernah membalas saat aku chat dengan dia maka kali ini kucoba mengirimkan private message ke inbox-nya. Aku tulis begini, ”Hi... Kenalin aku Anca, yang dulu kenalan dengan kamu di warnet. Masih ingat, kan?”
Aku tunggu sehari, dua hari, tiga hari... tetapi message yang aku kirimkan tidak pernah dia balas walaupun aku tahu kalau dia sudah online dan membaca message-ku. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala dan mengucapkan dalam hati kalimat ngetop bang Rhoma Irama, ”Sungguh terlalu...”
Tapi aku nggak menyerah dengan nasib, aku anggap semua ini tantangan! Lalu aku kirim kembali pesan ke inbox-nya. Berharap semoga dia membalas, aku ketikkan kalimat yang aku pikir agak menyentuh hati wanita. Aku ketik begini, ”Kenapa kamu nggak membalas pesanku padahal aku tahu kamu pasti telah membacanya, kan? Sombong banget. Sombong itu baik nggak, sih? Aku kan bukan penjahat, aku hanya ingin berteman saja, apa itu salah? Tolong, kalau aku salah berteman dengan kamu atau kamu memang nggak mau kenal dengan aku, harap kamu katakan... Trims.”
Namun hari-hari terus berlalu seperti biasa. Dan seperti biasanya juga dia masih diam mematung, cuek membebek! Dan nasib semakin bahagia mempermainkan diriku.
Suatu malam saat hendak pulang ke kost, aku berpapasan dengan gadis yang sepertinya tidak asing walaupun gelap malam  membungkus wajahnya. Tidak salah lagi ini pasti gadis fesbuk yang sombong itu, pikirku. Kuperhatikan wajahnya, tanpa sengaja dia juga melihat ke arah wajahku. Mata kami bertemu, lalu seolah menyadari sesuatu segera dipalingkannya pandangannya dariku dan bergegas pergi dengan cepat melewatiku. Aku kembali terbengong, nasib... nasib...
Beberapa hari kemudian di satu pagi, di satu tempat jualan lontong, di satu tempat aku beli sarapan seperti biasanya dan di satu hari yang beruntung, kembali aku melihat satu sosok gadis menyebrang jalan dan itu adalah satu-satunya gadis fesbuk paling sombong yang pernah aku kenal! Otakku kembali berpikir, jantungku berdegup kencang, dan seakan amarahku timbul aku nekad menyusulnya ke seberang jalan. Dari kejauhan dia melihatku datang ke arahnya dan tingkahnya mulai gelisah, seperti agak takut melihatku mendekat tapi apa daya angkot yang ditunggunya belum datang juga justru kali ini si pembawa masalah yang mendatanginya, awas!
”Hei!” kataku sedikit berteriak begitu tiba didepannya. ”Kamu pasti kenal aku, kan? Dulu kita pernah ketemu di warnet dan aku meminta alamat fesbuk kamu!”
”I...iya,” jawabnya gugup. ”Kita lain kali aja ngobrolnya ya, aku mau ke kampus...”
”Sabar dulu, bentar aja,” kataku sambil kuberanikan diriku menarik tangannya ke emperan kaki lima ruko yang ada di belakang kami. Anehnya, dia menurut saja aku tarik seperti itu.
Aku menghela nafas, memandangnya yang sedang kebingungan. Lalu aku berkata, ”Dengar, aku tinggal nggak jauh dari tempat kamu tinggal. Karena itu kemungkinan kita bertemu setiap hari sangat besar. Buktinya, dulu kita bertemu nggak sengaja di warnet. Sekarang kita bertemu secara tidak sengaja hari ini. Nah, apa kamu pikir besok atau lusa kita nggak ada kemungkinan bertemu lagi?”
Aku menatap lama ke arah matanya. Dipandangi seperti itu dia jadi tertunduk, ”I..iya juga sih...” jawabnya pelan.
”Iya apanya?” tanyaku lagi memancing responnya.
”Iya, benar juga sih kalau kita bisa bertemu lagi besok atau lusa secara tidak sengaja,” jawabnya lirih.
”Kenapa kita bisa bertemu secara tidak sengaja?” tanyaku lagi sambil tersenyum.
”Karena kita tinggal berdekatan,” jawabnya pelan.
”Kita sudah terlanjur kenal setelah pertemuan pertama dulu, jadi apa kamu akan menghindar terus dariku dan pura-pura nggak kenal setiap kali berpapasan denganku? Apa kamu nyaman berlaku seperti itu?”
Dia berpikir sejenak, menelan ludah lalu menjawab, ”Nggak nyaman juga sih kalau pura-pura nggak kenal seperti itu...”
Kutarik nafas panjang lalu kupandang lagi ke arah matanya dan berkata, ”Lalu kenapa kamu nggak pernah membalas setiap kali aku menyapa kamu di fesbuk? Kenapa kamu pura-pura nggak pernah melihatku saat kita berpapasan di malam itu dan kamu malah kabur? Emang tampangku kelihatannya seperti kriminal, ya?” tanyaku sambil tertawa.
Dia diam saja ditanya seperti itu. ”Lho, kok diam?” tanyaku.
”Aku nggak bermaksud seperti itu sebenarnya...”
”Lalu kenapa kamu memperlakukanku seperti itu?” tanyaku lagi. Dia masih diam.
”Begini saja deh, mungkin kamu belum bisa menjelaskan sekarang apa alasan kamu. Tapi apapun alasan kamu itu aku ingin mendengarnya. Walaupun bukan sekarang tapi akan kutunggu sampai kamu merasa nyaman untuk menceritakannya. Jadi sampai saat itu tiba, aku ingin agar kamu tidak menghindar dariku lagi, setuju?”
”Hmm... oke...” jawabnya perlahan.
”Nah, karena kamu sudah setuju maka aku harus memastikan agar kamu tidak kabur lagi nanti.” Lalu aku mengeluarkan HP dari kantongku. Lalu kuberikan padanya. ”Coba kamu masukin nomer kamu disini.”
 Dia memasukkan nomernya di HPku lalu aku misscall nomer yang diberikannya itu. Hmm... ternyata itu benar nomer dia soalnya HP di kantongnya berbunyi.
”Nah, sekarang aku temani kamu ke kampus,” kataku.
”Lho, nggak usah,” jawabnya.
”Dengar ya, sebenarnya masalah kamu dengan aku itu adalah karena kamu belum terbiasa melihat wajahku yang nggak seberapa ini. Nanti kalau sudah sering kamu lihat pasti kamu nggak takut lagi deh.”
”Masa sih?”
”Iya, aku beri garansi tiga puluh hari. Kalau ternyata nanti setelah lebih tiga puluh hari kamu nggak jatuh cinta juga kepadaku, maka kamu boleh meninggalkanku. Tapi setelah itu aku akan mengejar kamu lagi!” candaku.
”Ha ha, kamu bisa aja,” jawabnya tertawa. Hmm... ternyata manis juga senyumnya. Kok nggak dari dulu kamu tersenyum seperti itu Vera...
Akhirnya aku menemaninya sampai ke kampus. Sepanjang perjalanan aku terus bercerita dan ngebanyol memancing agar tawanya yang manis itu keluar.
Setelah itu, hari-hari pun berlalu, aku tidak pernah lagi mengirim message ke fesbuknya, nggak pernah mati-matian lagi mengajak dia chat, karena disaat aku ingin ngobrol dengan dia maka aku akan langsung saja datang ke rumah kostnya. Lalu aku ketahui bahwa ternyata dia memang nggak pernah pacaran selama ini karena takut dengan lelaki dan orang asing. Teman-teman di fesbuknya yang berjumlah sekitar tiga puluhan itu semuanya dia kenal. Ternyata banyak pria yang berusaha meng-add dia di tolak mentah-mentah.

            Usut punya usut ternyata ayah dan ibunya bercerai karena ayahnya suka bertindak keras di rumah. Dan satu lagi alasan kenapa dia takut bertemu dengan orang asing yaitu karena dia pernah kena hipnotis di suatu pusat perbelanjaan sampai kehilangan jam dan HP. Hmm... mungkin alasan yang terakhir ini memang sedikit nggak masuk akal tapi apapun alasannya, yang pasti saat ini kami sudah sering jalan bareng dan dia pun merasa nyaman di dekatku. Dan aku pun berjanji untuk tidak pernah bertindak kasar terhadapnya seperti pengalaman yang dialami di keluarganya dulu. Tapi untuk urusan hipnotis, aku mengaku memang aku telah menghipnotisnya agar selalu dekat denganku. Ku hipnotis dia dengan cintaku. Happy forever after my facebook lady... :-)

Medan, Juli 2010


Read more...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP