Belati
BELATI Sebuah Cerpen karya Satta Peranginangin
Udara malam yang dingin dan hembusan angin
yang menusuk tulang di tepian danau tak juga membuat sepasang insan itu beranjak
dari duduknya. Bayu dan Nina duduk bersebelahan diatas bebatuan di pinggir
danau. Yah, malam ini juga Bayu harus berhasil menaklukkan hati Nina! Sudah tak
terhitung panjangnya kata-kata mutiara pemikat sukma yang dikeluarkan dari mulut
Bayu namun tampaknya belum begitu berpengaruh meluluhlantakkan kerasnya dinding
hati Nina. Tapi bukan Bayu namanya kalo harus menyerah begitu saja karena Bayu
selalu berhasil menaklukkan hati wanita manapun yang dia mau.
Bagaimanapun juga Nina harus takluk malam
ini! Jangan ditunda-tunda! Akhirnya Bayu harus memainkan skenario terakhir.
Bayu mengeluarkan belati dari dalam saku jaketnya. Melihat hal itu terus terang
saja Nina begitu terkejut, “Eh, mau apa kamu?” tanyanya setengah menjerit.
“Eits, tenang dulu,” kata Bayu tersenyum sambil
memegang bahu Nina. “Emang aku kelihatan seperti pembunuh yang kalap karena
patah hati?” tawa Bayu. Bayu menghela nafas dalam-dalam lalu memandang teduh ke
dalam mata Nina, “Aku hanya tidak tahu lagi bagaimana caranya aku harus meyakinkan
kamu untuk percaya bahwa aku sungguh-sungguh cinta mati sama kamu, Nina. Aku
ingin memakai belati ini hanya sebagai semacam alat peraga untuk menggambarkan
kesungguhanku padamu. Aku nggak akan menyakiti kamu..”
Mau tak mau Nina terpaksa diam menunggu
apa yang hendak dilakukan Bayu dengan belati itu walaupun hatinya bertanya-tanya.
Sebagai alat peraga apaan?
Bayu menggulung lengan jaket tangan
kirinya lalu menempelkan ujung belati yang tajam itu ke kulitnya. “Lihat Nina,
aku akan menulis namamu di lenganku ini!”
“Eeh, jangan!” sontak Nina terkejut dan
memegang tangan bayu yang sedang menggenggam belati. “Gila kamu ya!”
“Lho, kenapa kamu larang? Pokoknya aku
akan menuliskan namamu di lenganku dengan belati ini sebagai penanya dan
darahku sebagai tintanya! Ini melambangkan bahwa darahku pun akan aku korbankan
untuk seorang gadis bernama Nina yang sangat kucintai.. Lihatlah, Nina. Perhatikan
baik-baik..” Lalu Bayu kembali meneruskan aksinya menusukkan ujung belati ke
tangannya.
Namun bagaimanapun Nina adalah seorang
gadis yang takkan sanggup melihat hal-hal yang cenderung sadis, apalagi melihat
darah, wuiih.. Terpaksa tangannya kembali menghentikan aksi Bayu. “Jangan..” katanya
lirih, cuma kata itu yang keluar dari mulutnya.
Mereka lalu terdiam dan hanya saling
menatap. Tapi Nina tidak kuat dipandangi lama seperti itu, akhirnya
dilepaskannya pegangannya dan mengalihkan pandangan ke arah danau. “Kamu bodoh,
memangnya masih ada orang seperti kamu di jaman sekarang ini? Rela berkorban
demi cinta?” tanyanya dengan suara yang datar.
Bayu tertawa kecil, “Jelas ada, dong. Ada
di sebelah kamu kok sekarang.” Dalam hatinya dia senang karena jurusnya tampaknya
sudah mulai mengenai sasaran. Saatnya melakukan jurus selanjutnya! Bayu diam
sejenak lalu berdiri. “Nina, lihatlah kalau kamu tidak mengijinkanku untuk
membuktikan cintaku dengan cara seperti tadi maka lihatlah ini baik-baik!”
teriaknya.
Nina lagi-lagi sport jantung dibuatnya.
Entah ulah aneh apalagi yang akan dilakukan si gila ini pikirnya.
“Aku akan melemparkan belati ini ke tengah
danau dan aku bersumpah bahwa aku benar-benar cinta padamu, hanya ada kamu
satu-satunya dihatiku! Bila nanti aku ternyata berdusta maka biarlah belati ini
akan kembali kepadaku dan membunuhku!” lalu dilemparkannya belati itu ke tengah
danau. Belati itu melayang menepis kabut-kabut tipis diatas danau dan tenggelam
begitu cepatnya. Bayu lalu berteriak lagi, ”Biarlah para penunggu danau ini
jadi saksi atas sumpahku ini!” Jauh di dalam hatinya Bayu diam-diam merasa
getir juga, jantungnya berdegup kencang, kok bisa-bisanya dia bersumpah seperti
itu? Tapi segera ditepiskannya kegundahannya dengan logikanya. Nggak mungkin
belati yang sudah tenggelam ke dasar danau bisa menyembul lagi kepermukaan
dengan sendirinya dan membunuhnya. Lagian nggak ada yang namanya penunggu
danau. Yang paling mungkin ada hanyalah petugas kebersihan yang setia menunggui
danau ini.
Jantung Nina berdegup kencang, sudah
banyak laki-laki yang mengutarakan cinta kepadanya dengan berbagai macam cara
yang aneh namun tak pernah ada yang nekat dan unik seperti Bayu. Dia merasakan
perasaan aneh yang campur aduk dihatinya. Entah perasaan takut, khawatir atau
gembirakah ini? Yang jelas suasana yang menegangkan ini menimbulkan chemistry
dihatinya. Mungkinkah kerasnya dinding hatinya sudah berhasil diluluhlantakkan
oleh seorang Bayu?
Bayu
kembali duduk di sisi Nina dan menatap matanya, “Apakah ini masih belum cukup untuk
meyakinkanmu?” Nina masih membisu. Dia tidak tahu apa yang sekarang ini sedang
berkecamuk di dalam hatinya.
“Oke, baiklah..” Bayu lalu kembali berdiri
dan mulai melepaskan jaketnya. “Kali ini badanku ini yang akan kulemparkan ke
tengah danau!”
Sontak kembali Nina terkejut lalu dia
berdiri dan mencegah bayu, “Cukup..” katanya lirih. “Aku percaya kok…”
Bayu dengan gembiranya berpaling menghadap
Nina dan memegang kedua pundaknya, “Ah, yang bener?”
“Iya, bener kok..”
“Kalau bohong nanti kamu bakal dimarahi
penunggu danau ini, lho..”
“Nggak bohong kok…”
“Sumpah, nih...”
“Ah, nggak ada yang namanya
sumpah-sumpahan. Terserah mau percaya atau nggak!” Nina jadi sedikit ngambek
tapi Bayu langsung menenangkannya.
“Duileh..gitu aja ngambek. Aku percaya
kok. Lalu, apakah ini berarti saat ini kamu telah resmi jadi pacarku?”
Nina diam saja namun dia tersenyum kecil.
“Hei, malah senyam-senyum doang.. Jawab,
dong..”
“Iya..” jawab Nina malu-malu.
“Horeee!” teriak Bayu lalu kedua tangannya
menggengam kedua tangan Nina dan menari-nari, “Asik…asik…”
Danau yang berkabut di malam itu menjadi
saksi atas keberhasilan Bayu menaklukkan hati wanita yang sudah entah keberapa
puluh kalinya. Seorang Bayu yang selalu pandai memainkan skenario dramatis
untuk menyentuh hati target-targetnya.
Bayu dengan tersenyum puas membaringkan
tubuhnya di dalam tenda. Di sebelahnya terbaring Riko – sahabatnya, menatapnya
dengan penuh tanda tanya. “Bagaimana, berhasil tadi?” tanyanya.
“Berhasil, dong..” jawabnya setengah
berbisik. “Bayu gitu, lho…”
Riko diam sejenak. Lalu tanyanya lagi, “
Lalu bagaimana dengan Lusi?”
Dengan santainya Bayu menjawab, “Ah, itu
masalah belakangan. Nanti kalau timbul masalah, salah satu dari mereka akan aku
putuskan. Kalau masih bermasalah juga, terpaksa keduanya aku putusin terus cari
ganti yang baru lagi. Masih banyak stok wanita di dunia ini. Masa kamu nggak
tahu, aku kan udah biasa berurusan dengan hal-hal sepele seperti itu di dunia
persilatan ini,” tawanya.
“Oke kalau begitu. Terserah kamulah,” kata
Riko datar.
Bayu menatap langit-langit tenda. Jantungnya
kembali berdegup kencang mengingat apa yang telah ia lakukan tadi. Khayalnya
menerawang jauh. Entah kenapa malam ini dia merasa ada sesuatu yang lain yang
tidak seperti biasanya dia rasakan dalam benaknya. Dia merasa bahwa sepertinya
akan ada sesuatu hal yang menakutkan yang akan terjadi nanti.
Lama telah berlalu semenjak kejadian itu.
Layaknya seorang aktor yang pandai berakting, Bayu sungguh pandai
menyembunyikan sosok Nina kepada Lusi begitu juga sosok Lusi kepada Nina. Bayu
memang sudah amat mahir menyembunyikan semua pacar-pacarnya dari dulu. Bahkan
sering Bayu mempunyai pacar empat atau lima orang sekaligus. Sungguh seorang aktor
yang patut mendapat piala oscar!
Sore hari itu tampak begitu teduh dan
damai. Dari halaman rumah Nina tercium aroma daging ayam panggang yang menggugah
selera. Ya, ternyata memang disana ada Bayu dan Nina yang sedang asyiknya
memanggang ayam. Bayu membolak-balikkan ayam panggang sambil bernyanyi-nyanyi
riang. Nina tampak mengiris-iris campuran bumbu diatas meja triplek yang
tingginya kira-kira selutut orang dewasa. Sesekali dia mengejek nyanyian Bayu
dan tertawa-tawa.
Tapi suasana damai itu tidak berlangsung
lama. Canda tawa itu seketika terhenti tatkala Bayu melihat sosok Lusi berdiri
di depan gerbang rumah. Bagaikan setan di siang hari. Tidak! Di mata Bayu mimik
wajah Lusi saat itu lebih menakutkan dari itu. “Kamu, kok bisa ada disini..?
Tahu darimana tempat ini?” tanyanya terbata-bata.
Nina juga tak kalah herannya melihat
gelagat janggal dari kedua orang itu. “Kamu siapa?” tanyanya lalu meletakkan
belati yang dipakai mengiris bumbu tadi di atas meja.
Dengan langkah cepat Lusi masuk ke halaman
dan berdiri dengan marahnya tak jauh di depan bayu dan Nina. “Lebih baik kamu
tanyakan sendiri pada laki-laki brengsek itu siapa diriku!” tunjuk Lusi kearah
Bayu.
Nina dengan sangat heran lalu memandang ke
arah Bayu dengan mulut menganga namun tak ada kata yang keluar lewat bibirnya.
Bayu tertunduk. Dia tahu walaupun Nina hanya diam saja namun pada saat itu sebenarnya
Nina sedang bertanya kepadanya.
“Ayo jawab! Katakan padanya aku ini
siapa?!” teriak Lusi lagi.
“Iya-iya, aku jawab.” Bayu memandang
takut-takut kearah Nina, entah kenapa saat ini dia begitu takut. “Nina,
dengarkan. Sebenarnya sebelum aku pacaran dengan kamu aku masih pacaran dengan
orang lain. Dan sampai saat ini juga aku masih pacaran dengan orang lain
tersebut. Dan orang lain tersebut namanya Lusi. Dia ada di hadapan kamu
sekarang..” Bayu tertunduk.
Bagai disambar petir hati Nina saat itu.
Tak kuasa dibendungnya air matanya. “Jadi, selama ini kamu lakukan banyak hal,
lakukan ini, lakukan itu, ternyata semua palsu..?”
Bayu masih menunduk terdiam. “Ternyata
kamu hanya mempermainkan hatiku..? Kenapa kamu setega itu? Kamu punya hati
nggak sih?”
“Bukan seperti itu, Nina. Aku cinta kok
sama kamu..”
“Apa!?” Lusi marah mendengar ucapan Bayu
tersebut lalu tangannya melayang ke pipi Bayu, “Plak!!”
“Kalau kamu cinta dia, lalu aku ini apa,
hah?! Kamu anggap aku ini hanya mainan kamu?!”
Tamparan itu tak seberapa sakit dirasakan
bayu namun entah kenapa hatinya begitu perih luar biasa. “Aku juga cinta kamu,
Lusi..”
“Ha ha, luar biasa!” tawa Nina. Dia diam
sejenak lalu sekonyong-konyong tamparannya mendarat di pipi Bayu yang sebelah
lagi.
Bayu memegangi pipinya yang memerah.
“Dengar, ya. Aku jujur, nih. Aku cinta kalian berdua. Sungguh..” Sebenarnya
Bayu tidak berbohong. Pada awalnya Bayu memang tidak pernah serius dan berniat
memutuskan salah satu dari kedua gadis itu. Namun entah kenapa dia tidak mampu
berpisah dari salah satunya. Belum pernah seumur hidupnya perasaan Bayu begitu
kuatnya mencintai wanita seperti yang dirasakannya saat ini. Apalagi kalau
kenyataannya bahwa dia mencintai dua orang gadis sekaligus. Ya, Bayu
terperangkap dalam permainannya sendiri.
“Ha ha, lucu sekali!” Lalu tanpa dikomando
Nina dan Lusi bergerak mendekati Bayu. Ditamparnya dia, dijambak, ditinju,
ditendang. Satu pukulan, dua pukulan, tiga pukulan berlalu. Entah sudah berapa
pukulan menghujam tubuhnya tapi anehnya yang terasa lebih sakit itu jauh di
dalam hatinya, seolah-olah menghujam di jantungnya.
Tapi tiba-tiba sesosok lain datang dan
melerai mereka, memisahkan Bayu dari Nina dan Lusi yang sudah seolah-olah
kerasukan setan menghajar bayu habis-habisan.
“Riko? Kok kamu juga ada disini?” Bayu
berpikir sejenak, lalu dia bergumam, “Jangan-jangan..”
Belum selesai kata-kata keluar dari mulut
Bayu langsung ditimpali oleh Riko, “Ya, aku yang memberitahukan semuanya kepada
Lusi. Aku yang membawa Lusi kemari.”
“Apa?” Dengan emosinya Bayu melayangkan
pukulannya kearah Riko. “Teman seperti apa kamu, hah! Penghianat!” Pukulannya
bertubi-tubi menghajar Riko. Riko tidak melawan, kedua lengannya menutupi
wajahnya, melindungi dari pukulan Bayu. “Apa kamu senang melihat temanmu dipukuli
oleh wanita sampai babak belur begini?!” teriaknya sambil terus memukul.
Melihat hal itu Nina dan Lusi lalu menarik
Bayu, membawanya jauh dari Riko yang terlihat memegangi lengannya yang
kesakitan kena hajar Bayu. Bayu berusaha melepaskan diri dari pegangan kedua
gadis itu dan masih berniat menghajar Riko namun tiba-tiba tamparan Lusi
mendiamkannya.
“Kamu sadar nggak, sih?! Kamu itu yang
penghianat! Kamu menghianatiku! Kamu juga menghianati Nina!” teriak Lusi.
Bayu terdiam tapi nafasnya masih terengah-engah.
Di dalam hatinya dia sebenarnya membenarkan ucapan Lusi. Dia sadar kalau dia
salah namun jauh di dalam egonya hati Bayu, tidak rela kalau hanya dia yang
harus jadi korban dalam tragedi ini sehingga meluapkan amarahnya tadi kepada
Riko.
Riko lalu berkata, “Dengar, Bayu. Aku
bukan orang yang suka menghianati temanku sendiri. Dari dulu aku sudah sangat
tahu sepak terjangmu tapi aku tidak pernah memberitahukan siapapun karena kamu
itu temanku..”
“Huh, lalu apa yang kamu lakukan hari ini,
hah?! Itu yang dinamakan dengan teman!? Kenapa?! Jawab!” teriak Bayu.
“Karena Lusi juga adalah temanku!” jawab
Riko lantang.
Bayu terdiam seolah menyadari sesuatu,
point penting yang dia lupakan selama ini bahwa Lusi juga ternyata adalah teman
Riko. Kesalahan yang ternyata bisa berakibat jauh seperti ini.
“Lusi sering curhat kepadaku. Berbagi
cerita denganku. Juga sering membantu berbagai kesulitanku. Walaupun dia cuma
seorang teman, tapi aku sayang kepadanya! Aku sungguh tak tega melihat dia
dipermainkan oleh bajingan seperti kamu!!” emosi Riko meledak.
Bayu masih terdiam. Dia tak tahu harus
berbuat apalagi. Rasa malu bercampur sakit hati bergejolak dirasakannya. Lalu
kalimat-kalimat amarah bergantian keluar dari mulut dua orang gadis yang
menjadi kekasihnya itu. Kata-kata makian bertubi-tubi menusuk telinganya
bagaikan bunyi senapan mesin di medan perang. Namun lambat laun sumpah serapah
itu seakan-akan menghilang dari pendengarannya. Yang terdengar hanyalah suara
bising yang tidak bisa dia mengerti. Seolah-olah
hujan turun dengan derasnya disertai badai dan halilintar yang menimbulkan
keributan yang luar biasa ditelinganya. Alam seakan bergemuruh menertawakannya.
Bayu tidak tahan dengan keadaan seperti ini, giginya bergemeretak menahan
luapan emosi yang menumpuk perlahan. Ya, emosi yang menggunung itu harus
dikeluarkan dari kepalanya kalau tidak kepalanya bisa pecah menahan amarah!
Harus segera dilampiaskan amarah ini!
Matanya menatap tajam kearah Riko,
tampaknya hanya ia yang bisa dijadikan sasaran. Dengan berteriak ditepiskannya
kedua wanita yang terus memakinya itu lalu dia berlari kearah Riko. Tinjunya
mengepal siap untuk dihantamkan. Tapi tak disangka Bayu tersandung tanah yang
tidak rata, menjatuhkannya ke depan ke arah Riko namun tinjunya terus mengarah
ke sasaran. Secara refleks Riko menghindar kesamping, Bayu terjerembab
mematahkan meja triplek didepannya.
Lama Bayu diam tak bergerak, hanya
rintihannya yang terdengar perlahan. Melihat keadaan itu dengan khawatir Riko
mengangkat tubuh Bayu dan meletakkannya dipangkuannya. Astaga! Ternyata sebilah
belati menancap didadanya. Belati yang tadi dipakai Nina untuk mengiris bumbu
ayam panggang.
Melihat Bayu bersimbah darah, Nina dan
Lusi menjerit histeris mendekatinya. Mata Bayu masih terbuka, dia hendak
mengucapkan sesuatu tapi mulutnya sangat sulit untuk mengeluarkan kata-kata.
Hanya raungan tangis yang didengarnya. Melihat air mata orang-orang yang
mengerumuninya dia tersadar, tidak seharusnya dia menyakiti orang-orang yang sayang
kepadanya. Dengan sekuat tenaga dipaksakannya berucap, “Maaf..” katanya lirih.
Lalu terlintas di ingatannya
akan sumpahnya di danau tempo hari. Ternyata begini caranya belati itu membunuhku,
tawanya miris dalam hati. Suara-suara disekitarnya mendadak sunyi. Pandangan
pun perlahan meredup. Apakah ini akhir dari kisah seorang Bayu? Tidak! Aku
tidak mau mati sia-sia! Namun sekuat apapun Bayu memberontak, kenyataannya dia
hanya diam terbaring tak berdaya. Lalu senja pun terasa menjadi dingin, gelap
dan hening. Sunyi senyap dan gelap gulita menyelimuti. Lalu… tidak terasa apa-apa lagi…
Medan, 11 April 2010







0 komentar:
Posting Komentar