Sabtu, 23 November 2013

Belati


BELATI Sebuah Cerpen karya Satta Peranginangin




Udara malam yang dingin dan hembusan angin yang menusuk tulang di tepian danau tak juga membuat sepasang insan itu beranjak dari duduknya. Bayu dan Nina duduk bersebelahan diatas bebatuan di pinggir danau. Yah, malam ini juga Bayu harus berhasil menaklukkan hati Nina! Sudah tak terhitung panjangnya kata-kata mutiara pemikat sukma yang dikeluarkan dari mulut Bayu namun tampaknya belum begitu berpengaruh meluluhlantakkan kerasnya dinding hati Nina. Tapi bukan Bayu namanya kalo harus menyerah begitu saja karena Bayu selalu berhasil menaklukkan hati wanita manapun yang dia mau.
Bagaimanapun juga Nina harus takluk malam ini! Jangan ditunda-tunda! Akhirnya Bayu harus memainkan skenario terakhir. Bayu mengeluarkan belati dari dalam saku jaketnya. Melihat hal itu terus terang saja Nina begitu terkejut, “Eh, mau apa kamu?” tanyanya setengah menjerit.
“Eits, tenang dulu,” kata Bayu tersenyum sambil memegang bahu Nina. “Emang aku kelihatan seperti pembunuh yang kalap karena patah hati?” tawa Bayu. Bayu menghela nafas dalam-dalam lalu memandang teduh ke dalam mata Nina, “Aku hanya tidak tahu lagi bagaimana caranya aku harus meyakinkan kamu untuk percaya bahwa aku sungguh-sungguh cinta mati sama kamu, Nina. Aku ingin memakai belati ini hanya sebagai semacam alat peraga untuk menggambarkan kesungguhanku padamu. Aku nggak akan menyakiti kamu..”
Mau tak mau Nina terpaksa diam menunggu apa yang hendak dilakukan Bayu dengan belati itu walaupun hatinya bertanya-tanya. Sebagai alat peraga apaan?
Bayu menggulung lengan jaket tangan kirinya lalu menempelkan ujung belati yang tajam itu ke kulitnya. “Lihat Nina, aku akan menulis namamu di lenganku ini!”
“Eeh, jangan!” sontak Nina terkejut dan memegang tangan bayu yang sedang menggenggam belati. “Gila kamu ya!”
“Lho, kenapa kamu larang? Pokoknya aku akan menuliskan namamu di lenganku dengan belati ini sebagai penanya dan darahku sebagai tintanya! Ini melambangkan bahwa darahku pun akan aku korbankan untuk seorang gadis bernama Nina yang sangat kucintai.. Lihatlah, Nina. Perhatikan baik-baik..” Lalu Bayu kembali meneruskan aksinya menusukkan ujung belati ke tangannya.
Namun bagaimanapun Nina adalah seorang gadis yang takkan sanggup melihat hal-hal yang cenderung sadis, apalagi melihat darah, wuiih.. Terpaksa tangannya kembali menghentikan aksi Bayu. “Jangan..” katanya lirih, cuma kata itu yang keluar dari mulutnya.
Mereka lalu terdiam dan hanya saling menatap. Tapi Nina tidak kuat dipandangi lama seperti itu, akhirnya dilepaskannya pegangannya dan mengalihkan pandangan ke arah danau. “Kamu bodoh, memangnya masih ada orang seperti kamu di jaman sekarang ini? Rela berkorban demi cinta?” tanyanya dengan suara yang datar.
Bayu tertawa kecil, “Jelas ada, dong. Ada di sebelah kamu kok sekarang.” Dalam hatinya dia senang karena jurusnya tampaknya sudah mulai mengenai sasaran. Saatnya melakukan jurus selanjutnya! Bayu diam sejenak lalu berdiri. “Nina, lihatlah kalau kamu tidak mengijinkanku untuk membuktikan cintaku dengan cara seperti tadi maka lihatlah ini baik-baik!” teriaknya.
Nina lagi-lagi sport jantung dibuatnya. Entah ulah aneh apalagi yang akan dilakukan si gila ini pikirnya.
“Aku akan melemparkan belati ini ke tengah danau dan aku bersumpah bahwa aku benar-benar cinta padamu, hanya ada kamu satu-satunya dihatiku! Bila nanti aku ternyata berdusta maka biarlah belati ini akan kembali kepadaku dan membunuhku!” lalu dilemparkannya belati itu ke tengah danau. Belati itu melayang menepis kabut-kabut tipis diatas danau dan tenggelam begitu cepatnya. Bayu lalu berteriak lagi, ”Biarlah para penunggu danau ini jadi saksi atas sumpahku ini!” Jauh di dalam hatinya Bayu diam-diam merasa getir juga, jantungnya berdegup kencang, kok bisa-bisanya dia bersumpah seperti itu? Tapi segera ditepiskannya kegundahannya dengan logikanya. Nggak mungkin belati yang sudah tenggelam ke dasar danau bisa menyembul lagi kepermukaan dengan sendirinya dan membunuhnya. Lagian nggak ada yang namanya penunggu danau. Yang paling mungkin ada hanyalah petugas kebersihan yang setia menunggui danau ini.
Jantung Nina berdegup kencang, sudah banyak laki-laki yang mengutarakan cinta kepadanya dengan berbagai macam cara yang aneh namun tak pernah ada yang nekat dan unik seperti Bayu. Dia merasakan perasaan aneh yang campur aduk dihatinya. Entah perasaan takut, khawatir atau gembirakah ini? Yang jelas suasana yang menegangkan ini menimbulkan chemistry dihatinya. Mungkinkah kerasnya dinding hatinya sudah berhasil diluluhlantakkan oleh seorang Bayu?
 Bayu kembali duduk di sisi Nina dan menatap matanya, “Apakah ini masih belum cukup untuk meyakinkanmu?” Nina masih membisu. Dia tidak tahu apa yang sekarang ini sedang berkecamuk di dalam hatinya.
“Oke, baiklah..” Bayu lalu kembali berdiri dan mulai melepaskan jaketnya. “Kali ini badanku ini yang akan kulemparkan ke tengah danau!”
Sontak kembali Nina terkejut lalu dia berdiri dan mencegah bayu, “Cukup..” katanya lirih. “Aku percaya kok…”
Bayu dengan gembiranya berpaling menghadap Nina dan memegang kedua pundaknya, “Ah, yang bener?”
“Iya, bener kok..”
“Kalau bohong nanti kamu bakal dimarahi penunggu danau ini, lho..”
“Nggak bohong kok…”
“Sumpah, nih...”
“Ah, nggak ada yang namanya sumpah-sumpahan. Terserah mau percaya atau nggak!” Nina jadi sedikit ngambek tapi Bayu langsung menenangkannya.
“Duileh..gitu aja ngambek. Aku percaya kok. Lalu, apakah ini berarti saat ini kamu telah resmi jadi pacarku?”  
Nina diam saja namun dia tersenyum kecil.
“Hei, malah senyam-senyum doang.. Jawab, dong..”
“Iya..” jawab Nina malu-malu.
“Horeee!” teriak Bayu lalu kedua tangannya menggengam kedua tangan Nina dan menari-nari, “Asik…asik…”
Danau yang berkabut di malam itu menjadi saksi atas keberhasilan Bayu menaklukkan hati wanita yang sudah entah keberapa puluh kalinya. Seorang Bayu yang selalu pandai memainkan skenario dramatis untuk menyentuh hati target-targetnya.
Bayu dengan tersenyum puas membaringkan tubuhnya di dalam tenda. Di sebelahnya terbaring Riko – sahabatnya, menatapnya dengan penuh tanda tanya. “Bagaimana, berhasil tadi?” tanyanya.
“Berhasil, dong..” jawabnya setengah berbisik. “Bayu gitu, lho…”
Riko diam sejenak. Lalu tanyanya lagi, “ Lalu bagaimana dengan Lusi?”
Dengan santainya Bayu menjawab, “Ah, itu masalah belakangan. Nanti kalau timbul masalah, salah satu dari mereka akan aku putuskan. Kalau masih bermasalah juga, terpaksa keduanya aku putusin terus cari ganti yang baru lagi. Masih banyak stok wanita di dunia ini. Masa kamu nggak tahu, aku kan udah biasa berurusan dengan hal-hal sepele seperti itu di dunia persilatan ini,” tawanya.
“Oke kalau begitu. Terserah kamulah,” kata Riko datar.
Bayu menatap langit-langit tenda. Jantungnya kembali berdegup kencang mengingat apa yang telah ia lakukan tadi. Khayalnya menerawang jauh. Entah kenapa malam ini dia merasa ada sesuatu yang lain yang tidak seperti biasanya dia rasakan dalam benaknya. Dia merasa bahwa sepertinya akan ada sesuatu hal yang menakutkan yang akan terjadi nanti.
Lama telah berlalu semenjak kejadian itu. Layaknya seorang aktor yang pandai berakting, Bayu sungguh pandai menyembunyikan sosok Nina kepada Lusi begitu juga sosok Lusi kepada Nina. Bayu memang sudah amat mahir menyembunyikan semua pacar-pacarnya dari dulu. Bahkan sering Bayu mempunyai pacar empat atau lima orang sekaligus. Sungguh seorang aktor yang patut mendapat piala oscar!
Sore hari itu tampak begitu teduh dan damai. Dari halaman rumah Nina tercium aroma daging ayam panggang yang menggugah selera. Ya, ternyata memang disana ada Bayu dan Nina yang sedang asyiknya memanggang ayam. Bayu membolak-balikkan ayam panggang sambil bernyanyi-nyanyi riang. Nina tampak mengiris-iris campuran bumbu diatas meja triplek yang tingginya kira-kira selutut orang dewasa. Sesekali dia mengejek nyanyian Bayu dan tertawa-tawa.
Tapi suasana damai itu tidak berlangsung lama. Canda tawa itu seketika terhenti tatkala Bayu melihat sosok Lusi berdiri di depan gerbang rumah. Bagaikan setan di siang hari. Tidak! Di mata Bayu mimik wajah Lusi saat itu lebih menakutkan dari itu. “Kamu, kok bisa ada disini..? Tahu darimana tempat ini?” tanyanya terbata-bata.        
Nina juga tak kalah herannya melihat gelagat janggal dari kedua orang itu. “Kamu siapa?” tanyanya lalu meletakkan belati yang dipakai mengiris bumbu tadi di atas meja.
Dengan langkah cepat Lusi masuk ke halaman dan berdiri dengan marahnya tak jauh di depan bayu dan Nina. “Lebih baik kamu tanyakan sendiri pada laki-laki brengsek itu siapa diriku!” tunjuk Lusi kearah Bayu.       
Nina dengan sangat heran lalu memandang ke arah Bayu dengan mulut menganga namun tak ada kata yang keluar lewat bibirnya. Bayu tertunduk. Dia tahu walaupun Nina hanya diam saja namun pada saat itu sebenarnya Nina sedang bertanya kepadanya.
“Ayo jawab! Katakan padanya aku ini siapa?!” teriak Lusi lagi.
“Iya-iya, aku jawab.” Bayu memandang takut-takut kearah Nina, entah kenapa saat ini dia begitu takut. “Nina, dengarkan. Sebenarnya sebelum aku pacaran dengan kamu aku masih pacaran dengan orang lain. Dan sampai saat ini juga aku masih pacaran dengan orang lain tersebut. Dan orang lain tersebut namanya Lusi. Dia ada di hadapan kamu sekarang..” Bayu tertunduk.
Bagai disambar petir hati Nina saat itu. Tak kuasa dibendungnya air matanya. “Jadi, selama ini kamu lakukan banyak hal, lakukan ini, lakukan itu, ternyata semua palsu..?”
Bayu masih menunduk terdiam. “Ternyata kamu hanya mempermainkan hatiku..? Kenapa kamu setega itu? Kamu punya hati nggak sih?”
“Bukan seperti itu, Nina. Aku cinta kok sama kamu..”
“Apa!?” Lusi marah mendengar ucapan Bayu tersebut lalu tangannya melayang ke pipi Bayu, “Plak!!”
“Kalau kamu cinta dia, lalu aku ini apa, hah?! Kamu anggap aku ini hanya mainan kamu?!”
Tamparan itu tak seberapa sakit dirasakan bayu namun entah kenapa hatinya begitu perih luar biasa. “Aku juga cinta kamu, Lusi..”
“Ha ha, luar biasa!” tawa Nina. Dia diam sejenak lalu sekonyong-konyong tamparannya mendarat di pipi Bayu yang sebelah lagi.  
Bayu memegangi pipinya yang memerah. “Dengar, ya. Aku jujur, nih. Aku cinta kalian berdua. Sungguh..” Sebenarnya Bayu tidak berbohong. Pada awalnya Bayu memang tidak pernah serius dan berniat memutuskan salah satu dari kedua gadis itu. Namun entah kenapa dia tidak mampu berpisah dari salah satunya. Belum pernah seumur hidupnya perasaan Bayu begitu kuatnya mencintai wanita seperti yang dirasakannya saat ini. Apalagi kalau kenyataannya bahwa dia mencintai dua orang gadis sekaligus. Ya, Bayu terperangkap dalam permainannya sendiri.
“Ha ha, lucu sekali!” Lalu tanpa dikomando Nina dan Lusi bergerak mendekati Bayu. Ditamparnya dia, dijambak, ditinju, ditendang. Satu pukulan, dua pukulan, tiga pukulan berlalu. Entah sudah berapa pukulan menghujam tubuhnya tapi anehnya yang terasa lebih sakit itu jauh di dalam hatinya, seolah-olah menghujam di jantungnya.
Tapi tiba-tiba sesosok lain datang dan melerai mereka, memisahkan Bayu dari Nina dan Lusi yang sudah seolah-olah kerasukan setan menghajar bayu habis-habisan.
“Riko? Kok kamu juga ada disini?” Bayu berpikir sejenak, lalu dia bergumam, “Jangan-jangan..”
Belum selesai kata-kata keluar dari mulut Bayu langsung ditimpali oleh Riko, “Ya, aku yang memberitahukan semuanya kepada Lusi. Aku yang membawa Lusi kemari.”
“Apa?” Dengan emosinya Bayu melayangkan pukulannya kearah Riko. “Teman seperti apa kamu, hah! Penghianat!” Pukulannya bertubi-tubi menghajar Riko. Riko tidak melawan, kedua lengannya menutupi wajahnya, melindungi dari pukulan Bayu. “Apa kamu senang melihat temanmu dipukuli oleh wanita sampai babak belur begini?!” teriaknya sambil terus memukul.
Melihat hal itu Nina dan Lusi lalu menarik Bayu, membawanya jauh dari Riko yang terlihat memegangi lengannya yang kesakitan kena hajar Bayu. Bayu berusaha melepaskan diri dari pegangan kedua gadis itu dan masih berniat menghajar Riko namun tiba-tiba tamparan Lusi mendiamkannya.
“Kamu sadar nggak, sih?! Kamu itu yang penghianat! Kamu menghianatiku! Kamu juga menghianati Nina!” teriak Lusi.
Bayu terdiam tapi nafasnya masih terengah-engah. Di dalam hatinya dia sebenarnya membenarkan ucapan Lusi. Dia sadar kalau dia salah namun jauh di dalam egonya hati Bayu, tidak rela kalau hanya dia yang harus jadi korban dalam tragedi ini sehingga meluapkan amarahnya tadi kepada Riko.
Riko lalu berkata, “Dengar, Bayu. Aku bukan orang yang suka menghianati temanku sendiri. Dari dulu aku sudah sangat tahu sepak terjangmu tapi aku tidak pernah memberitahukan siapapun karena kamu itu temanku..”
“Huh, lalu apa yang kamu lakukan hari ini, hah?! Itu yang dinamakan dengan teman!? Kenapa?! Jawab!” teriak Bayu.
“Karena Lusi juga adalah temanku!” jawab Riko lantang.
Bayu terdiam seolah menyadari sesuatu, point penting yang dia lupakan selama ini bahwa Lusi juga ternyata adalah teman Riko. Kesalahan yang ternyata bisa berakibat jauh seperti ini.
“Lusi sering curhat kepadaku. Berbagi cerita denganku. Juga sering membantu berbagai kesulitanku. Walaupun dia cuma seorang teman, tapi aku sayang kepadanya! Aku sungguh tak tega melihat dia dipermainkan oleh bajingan seperti kamu!!” emosi Riko meledak.
Bayu masih terdiam. Dia tak tahu harus berbuat apalagi. Rasa malu bercampur sakit hati bergejolak dirasakannya. Lalu kalimat-kalimat amarah bergantian keluar dari mulut dua orang gadis yang menjadi kekasihnya itu. Kata-kata makian bertubi-tubi menusuk telinganya bagaikan bunyi senapan mesin di medan perang. Namun lambat laun sumpah serapah itu seakan-akan menghilang dari pendengarannya. Yang terdengar hanyalah suara bising yang tidak bisa dia mengerti.  Seolah-olah hujan turun dengan derasnya disertai badai dan halilintar yang menimbulkan keributan yang luar biasa ditelinganya. Alam seakan bergemuruh menertawakannya. Bayu tidak tahan dengan keadaan seperti ini, giginya bergemeretak menahan luapan emosi yang menumpuk perlahan. Ya, emosi yang menggunung itu harus dikeluarkan dari kepalanya kalau tidak kepalanya bisa pecah menahan amarah! Harus segera dilampiaskan amarah ini!
Matanya menatap tajam kearah Riko, tampaknya hanya ia yang bisa dijadikan sasaran. Dengan berteriak ditepiskannya kedua wanita yang terus memakinya itu lalu dia berlari kearah Riko. Tinjunya mengepal siap untuk dihantamkan. Tapi tak disangka Bayu tersandung tanah yang tidak rata, menjatuhkannya ke depan ke arah Riko namun tinjunya terus mengarah ke sasaran. Secara refleks Riko menghindar kesamping, Bayu terjerembab mematahkan meja triplek didepannya.
Lama Bayu diam tak bergerak, hanya rintihannya yang terdengar perlahan. Melihat keadaan itu dengan khawatir Riko mengangkat tubuh Bayu dan meletakkannya dipangkuannya. Astaga! Ternyata sebilah belati menancap didadanya. Belati yang tadi dipakai Nina untuk mengiris bumbu ayam panggang.
Melihat Bayu bersimbah darah, Nina dan Lusi menjerit histeris mendekatinya. Mata Bayu masih terbuka, dia hendak mengucapkan sesuatu tapi mulutnya sangat sulit untuk mengeluarkan kata-kata. Hanya raungan tangis yang didengarnya. Melihat air mata orang-orang yang mengerumuninya dia tersadar, tidak seharusnya dia menyakiti orang-orang yang sayang kepadanya. Dengan sekuat tenaga dipaksakannya berucap, “Maaf..” katanya lirih.



Lalu terlintas di ingatannya akan sumpahnya di danau tempo hari. Ternyata begini caranya belati itu membunuhku, tawanya miris dalam hati. Suara-suara disekitarnya mendadak sunyi. Pandangan pun perlahan meredup. Apakah ini akhir dari kisah seorang Bayu? Tidak! Aku tidak mau mati sia-sia! Namun sekuat apapun Bayu memberontak, kenyataannya dia hanya diam terbaring tak berdaya. Lalu senja pun terasa menjadi dingin, gelap dan hening. Sunyi senyap dan gelap gulita menyelimuti. Lalu… tidak terasa apa-apa lagi…


Medan, 11 April 2010

0 komentar:

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP