Sabtu, 23 November 2013

Mengejar Gadis Facebook



MENGEJAR GADIS FACEBOOK
Sebuah Cerpen karya Satta Peranginangin


Warnet yang kumasuki ini terlihat sepi, hanya ada operator warnet dan seorang gadis yang duduk dipojokan sana. Maklum masih pagi dan hari libur begini biasanya orang-orang pada malas untuk bangun pagi. Apalagi di lingkungan kampus seperti ini, anak-anak kost pasti masih sedang pulas-pulasnya tertidur lelap dan bahkan mungkin banyak yang sengaja bangun agak siang biar nggak perlu lagi sarapan, itung-itung biar penghematan biaya makan. He he... jadi ingat masa lalu...
”Mbak, komputer mana yang bisa dipakai?” tanyaku kepada gadis operator warnet.
”Yang mana juga bisa, bang. Silahkan pilih yang mana aja, kosong semua kok,” katanya.
”Kalau begitu aku pilih komputer yang mbak pakai itu aja, deh,” kataku menggodanya.
”Wah, jangan. Ntar isi lacinya pada pindah semua ke kantong abang,” candanya.
Dengan tersenyum-senyum kupilih komputer yang paling dekat dengan meja operator. Eh, setelah dihidupkan ternyata monitor nggak mau nyala. ”Mbak, monitor mbak ini kok pada tidur melulu nggak mau dibangunin, sih?”
”Oh, maaf. Mungkin komputer yang itu sudah sampai umurnya. Maklum udah tua,” jawab gadis operator itu bercanda. ”Abang pindah aja deh ke sebelah mbak yang itu,” katanya sambil menunjuk ke arah satu-satunya manusia pengunjung warnet itu. Dengan hati riang seperti anak anjing yang diberi makan oleh majikannya, aku dengan senang hati pindah ke sebelah gadis itu. Lumayan, siapa tahu bisa diajak kenalan...
Sambil bermain Fesbuk (Facebook), sesekali kulirik ke arah gadis di sebelahku. Hmm, ternyata manis juga makhluk yang satu ini. Berkulit putih, berambut panjang, dengan kaos putih bersih dan celana pendek, sungguh suatu pemandangan yang indah untuk mengawali hariku pagi ini.
Setelah mengucapkan kalimat, ”aku berani...aku berani...aku berani...” di dalam hatiku sebanyak dua puluh kali akhirnya kuberanikan diriku untuk menyapa gadis itu, ”Hai, kamu senang fesbukan juga ya?”
Gadis itu menoleh ke arahku, dengan ragu-ragu dia menjawab, ”Iya, sih. Tapi kalau lagi nggak ada kerjaan saja.”
Ya ampun, merdu banget suaranya. ”Oh, begitu ya. Kalau begitu bisa dong aku minta alamat fesbuk kamu biar aku add jadi temanku. Nggak apa-apa, kan? Lumayan biar nambah kenalan.”
Dia diam sejenak, seperti enggan memberikan alamat fesbuknya. Tapi setelah aku pandangi terus dengan memasang wajah lugu tanpa dosa akhirnya diberikannya juga alamat fesbuknya. Mungkin dia sudah yakin kalau tampangku ini bukan tampang penjahat.
Ku buka alamat fesbuknya, ku buka profilnya. Hmm... namanya Vera. Nama yang umum dan standar, ha ha ha. Ku lihat daftar teman-temannya, ternyata temannya sedikit, masih berjumlah sekitar tiga puluhan orang. Hmm... sepertinya dia masih baru dalam dunia fesbuk. Segera ku tambahkan dalam daftar temanku. Setelah itu ku susun lagi rencana dalam hatiku, kalimat apalagi yang akan ku pakai untuk meneruskan obrolan dengan dia, ya? Gadis seperti ini mubazir kalau didiamin saja.
Lalu aku menoleh lagi ke arahnya dan hendak mengucapkan kata tapi saat bibirku baru terbuka, ku lihat komputernya sedang di shut down.
”Maaf, ya. Aku duluan...” katanya sambil tersenyum lalu segera bergegas ke operator warnet, membayar biaya rental, lalu pergi begitu saja tanpa melirik ke arah aku lagi.
Aku hanya bisa melongo memandang kepergian makhluk manis yang bahkan namaku saja sepertinya dia tidak ingin tahu. Kok begitu ya, apakah kegantenganku sudah mulai berkurang?
Esok harinya ku buka lagi fesbukku, ku periksa apakah permintaan pertemananku kemarin sudah diterimanya? Lalu... akhirnya yang kuharap-harapkan ternyata... tidak terjadi! Eh, mungkin belum saatnya terjadi. Barangkali dia belum membuka fesbuknya sehingga dia belum mengkonfirmasi permintaan pertemananku.
Esok harinya lagi, hari kedua. Ku periksa lagi fesbukku. Ternyata nasib masih mempermainkan diriku seperti hari kemarin, ha ha. Kubesarkan hatiku, barangkali dia belum membuka fesbuknya...
Lanjut, hari ketiga. Tak jemu-jemu aku memeriksa fesbukku. Ternyata nasib senang banget mempermainkan diriku. Mungkinkah gadis itu belum online-online juga? Kubesarkan lagi hatiku, maklumlah dia masih anak kuliah, mungkin budget untuk ke warnet minim, jadi pasti dia belum ke warnet. Oh, pasti begitu!
Hari keempat! Ternyata nasib benar-benar sudah terbukti tega banget mempermainkan nasibku! Ku lihat gadis itu sudah meng-update status message terbarunya. Bukan hanya sekali tapi ada tiga kali. Bahkan dia rajin membalas komentar cowok-cowok yang memberikan komentar di statusnya. Ya ampun, ternyata banyak juga sainganku. Tapi kenapa dia belum mengkonfirmasi permintaan pertemanan dariku? Jelas-jelas dia sudah membuka fesbuk! Ah, ternyata memang nilai jualku udah turun sampai-sampai diabaikan oleh cewek... Biar kecewa tapi nggak boleh nangis. Gue kan jantan!
Akhirnya hari-hari terus berlalu sampai tujuh hari dengan kondisi serupa. Aku dicuekin! Ah, biarlah. Gadis sombong seperti itu buat apa juga dijadikan teman? Mungkin dia memang nggak pantas buat kenal dengan orang seganteng diriku. Tapi...kalau aku ganteng kenapa nggak dia konfirmasi juga ya? Nasib...nasib...
Hari-hari berganti. Dua minggu sudah berlalu saudara-saudara! Selama itu juga aku bisa memastikan bahwa dirinya sering online dari hasil pemantauanku terhadap status-statusnya yang silih berganti di-update. Sungguh sakitnya perasanku dicuekin seperti itu saudara-saudara! Tapi aku selalu tertawa dalam hati menghibur hatiku, ha ha ha ha!
Tepat hari ke lima belas, disaat hatiku sudah pasrah menerima kenyataan bahwa diriku sudah nggak laku lagi di dunia perfesbukan, ternyata si doi malah mengkonfirmasi permintaan pertemanan dariku. Whats up? Sebegitu tinggikah kastanya sehingga membutuhkan waktu dua minggu hanya untuk meng-approve diriku? Ck...ck...
Suatu hari saat aku sedang online dan kulihat melalui kolom chat dia juga sedang online, segera kusapa dirinya, ku ketikkan kata yang sederhana; ”Hi... J. Akhirnya ada juga kesempatan ngobrol, nih. Tapi setelah lama kutunggu, dia nggak juga membalas sepatah katapun. Mungkin koneksi internet lagi lambat, pikirku. Ku ketikkan lagi kata yang sama, ”Hi... J.  Tetap nggak di balas. Ku ulangi lagi dengan mengetikkan kata yang sama tapi tetap nggak dibalas.
Akhirnya aku sadar bahwa si nasib memang kejam betul! Teganya dia terus menerus mempermainkan diriku. Masa sampai si cewek off, dia nggak membalas sedikitpun sapaan ramah dariku? Nggak mungkin karena koneksi internet lagi lambat!
Beberapa hari kemudian saat aku melihat dia sedang online, kembali kusapa dirinya dengan kata yang simple dan tidak mujarab seperti biasa, ”Hi... J. Dan seperti biasa lagi, tetap nggak dibalas. Walaupun aku sudah sadar kalau nasib tega banget mempermainkan diriku tapi kok aku nggak jera-jera juga terus berusaha mengawali pembicaraan dengannya? Apakah ini yang dinamakan dengan tidak sadar diri atau tidak tahu malu? Ah, bodoh amat! Kali ini kutambahkan lagi kalimat, ”kamu kok sombong ya?”. Tapi tidak dibalas. Aku nggak menyerah, ku ketikkan pesan di wall-nya, ”Hi, masih ingat nggak denganku? Yang dulu kenalan di warnet, lho.” Namun sepertinya dia memang benar-benar tidak tahu membaca atau bahkan tidak tahu cara mengetik sama sekali sehingga tetap saja dia diam mematung, cuek membebek! Bahkan komentarku pada status fesbuknya pun nggak pernah dia balas.
Suatu pagi saat sedang membeli sarapan lontong sayur di depan kost-an, aku melihat wajah yang tidak asing lagi sedang menyeberang jalan raya. Kuperhatikan, ternyata dia gadis fesbuk yang sombong itu! Lalu dia berhenti di seberang jalan dan menunggu angkot lewat, kelihatannya dia akan berangkat kuliah. Saat dia memalingkan wajahnya ke arahku, segera aku menyembunyikan wajahku di balik rak kaca steling tempat bu Nuri memajang hasil lontongnya – eh, memajang jualan lontong sayurnya!
Beberapa saat kemudian kulirik perlahan kembali ke arah dia sedang menunggu angkot tadi, ternyata dia sudah pergi. Loh, kenapa tadi aku sembunyi? Apa aku malu menunjukkan wajahku yang sudah dia tolak berkali-kali ini? Tapi ada satu kemungkinan yang aku dapat di pagi ini, yaitu kemungkinan bahwa dia tinggal nggak jauh dari tempat aku tinggal.
Esoknya, kembali kubuka fesbukku. Karena dia tidak pernah membalas saat aku chat dengan dia maka kali ini kucoba mengirimkan private message ke inbox-nya. Aku tulis begini, ”Hi... Kenalin aku Anca, yang dulu kenalan dengan kamu di warnet. Masih ingat, kan?”
Aku tunggu sehari, dua hari, tiga hari... tetapi message yang aku kirimkan tidak pernah dia balas walaupun aku tahu kalau dia sudah online dan membaca message-ku. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala dan mengucapkan dalam hati kalimat ngetop bang Rhoma Irama, ”Sungguh terlalu...”
Tapi aku nggak menyerah dengan nasib, aku anggap semua ini tantangan! Lalu aku kirim kembali pesan ke inbox-nya. Berharap semoga dia membalas, aku ketikkan kalimat yang aku pikir agak menyentuh hati wanita. Aku ketik begini, ”Kenapa kamu nggak membalas pesanku padahal aku tahu kamu pasti telah membacanya, kan? Sombong banget. Sombong itu baik nggak, sih? Aku kan bukan penjahat, aku hanya ingin berteman saja, apa itu salah? Tolong, kalau aku salah berteman dengan kamu atau kamu memang nggak mau kenal dengan aku, harap kamu katakan... Trims.”
Namun hari-hari terus berlalu seperti biasa. Dan seperti biasanya juga dia masih diam mematung, cuek membebek! Dan nasib semakin bahagia mempermainkan diriku.
Suatu malam saat hendak pulang ke kost, aku berpapasan dengan gadis yang sepertinya tidak asing walaupun gelap malam  membungkus wajahnya. Tidak salah lagi ini pasti gadis fesbuk yang sombong itu, pikirku. Kuperhatikan wajahnya, tanpa sengaja dia juga melihat ke arah wajahku. Mata kami bertemu, lalu seolah menyadari sesuatu segera dipalingkannya pandangannya dariku dan bergegas pergi dengan cepat melewatiku. Aku kembali terbengong, nasib... nasib...
Beberapa hari kemudian di satu pagi, di satu tempat jualan lontong, di satu tempat aku beli sarapan seperti biasanya dan di satu hari yang beruntung, kembali aku melihat satu sosok gadis menyebrang jalan dan itu adalah satu-satunya gadis fesbuk paling sombong yang pernah aku kenal! Otakku kembali berpikir, jantungku berdegup kencang, dan seakan amarahku timbul aku nekad menyusulnya ke seberang jalan. Dari kejauhan dia melihatku datang ke arahnya dan tingkahnya mulai gelisah, seperti agak takut melihatku mendekat tapi apa daya angkot yang ditunggunya belum datang juga justru kali ini si pembawa masalah yang mendatanginya, awas!
”Hei!” kataku sedikit berteriak begitu tiba didepannya. ”Kamu pasti kenal aku, kan? Dulu kita pernah ketemu di warnet dan aku meminta alamat fesbuk kamu!”
”I...iya,” jawabnya gugup. ”Kita lain kali aja ngobrolnya ya, aku mau ke kampus...”
”Sabar dulu, bentar aja,” kataku sambil kuberanikan diriku menarik tangannya ke emperan kaki lima ruko yang ada di belakang kami. Anehnya, dia menurut saja aku tarik seperti itu.
Aku menghela nafas, memandangnya yang sedang kebingungan. Lalu aku berkata, ”Dengar, aku tinggal nggak jauh dari tempat kamu tinggal. Karena itu kemungkinan kita bertemu setiap hari sangat besar. Buktinya, dulu kita bertemu nggak sengaja di warnet. Sekarang kita bertemu secara tidak sengaja hari ini. Nah, apa kamu pikir besok atau lusa kita nggak ada kemungkinan bertemu lagi?”
Aku menatap lama ke arah matanya. Dipandangi seperti itu dia jadi tertunduk, ”I..iya juga sih...” jawabnya pelan.
”Iya apanya?” tanyaku lagi memancing responnya.
”Iya, benar juga sih kalau kita bisa bertemu lagi besok atau lusa secara tidak sengaja,” jawabnya lirih.
”Kenapa kita bisa bertemu secara tidak sengaja?” tanyaku lagi sambil tersenyum.
”Karena kita tinggal berdekatan,” jawabnya pelan.
”Kita sudah terlanjur kenal setelah pertemuan pertama dulu, jadi apa kamu akan menghindar terus dariku dan pura-pura nggak kenal setiap kali berpapasan denganku? Apa kamu nyaman berlaku seperti itu?”
Dia berpikir sejenak, menelan ludah lalu menjawab, ”Nggak nyaman juga sih kalau pura-pura nggak kenal seperti itu...”
Kutarik nafas panjang lalu kupandang lagi ke arah matanya dan berkata, ”Lalu kenapa kamu nggak pernah membalas setiap kali aku menyapa kamu di fesbuk? Kenapa kamu pura-pura nggak pernah melihatku saat kita berpapasan di malam itu dan kamu malah kabur? Emang tampangku kelihatannya seperti kriminal, ya?” tanyaku sambil tertawa.
Dia diam saja ditanya seperti itu. ”Lho, kok diam?” tanyaku.
”Aku nggak bermaksud seperti itu sebenarnya...”
”Lalu kenapa kamu memperlakukanku seperti itu?” tanyaku lagi. Dia masih diam.
”Begini saja deh, mungkin kamu belum bisa menjelaskan sekarang apa alasan kamu. Tapi apapun alasan kamu itu aku ingin mendengarnya. Walaupun bukan sekarang tapi akan kutunggu sampai kamu merasa nyaman untuk menceritakannya. Jadi sampai saat itu tiba, aku ingin agar kamu tidak menghindar dariku lagi, setuju?”
”Hmm... oke...” jawabnya perlahan.
”Nah, karena kamu sudah setuju maka aku harus memastikan agar kamu tidak kabur lagi nanti.” Lalu aku mengeluarkan HP dari kantongku. Lalu kuberikan padanya. ”Coba kamu masukin nomer kamu disini.”
 Dia memasukkan nomernya di HPku lalu aku misscall nomer yang diberikannya itu. Hmm... ternyata itu benar nomer dia soalnya HP di kantongnya berbunyi.
”Nah, sekarang aku temani kamu ke kampus,” kataku.
”Lho, nggak usah,” jawabnya.
”Dengar ya, sebenarnya masalah kamu dengan aku itu adalah karena kamu belum terbiasa melihat wajahku yang nggak seberapa ini. Nanti kalau sudah sering kamu lihat pasti kamu nggak takut lagi deh.”
”Masa sih?”
”Iya, aku beri garansi tiga puluh hari. Kalau ternyata nanti setelah lebih tiga puluh hari kamu nggak jatuh cinta juga kepadaku, maka kamu boleh meninggalkanku. Tapi setelah itu aku akan mengejar kamu lagi!” candaku.
”Ha ha, kamu bisa aja,” jawabnya tertawa. Hmm... ternyata manis juga senyumnya. Kok nggak dari dulu kamu tersenyum seperti itu Vera...
Akhirnya aku menemaninya sampai ke kampus. Sepanjang perjalanan aku terus bercerita dan ngebanyol memancing agar tawanya yang manis itu keluar.
Setelah itu, hari-hari pun berlalu, aku tidak pernah lagi mengirim message ke fesbuknya, nggak pernah mati-matian lagi mengajak dia chat, karena disaat aku ingin ngobrol dengan dia maka aku akan langsung saja datang ke rumah kostnya. Lalu aku ketahui bahwa ternyata dia memang nggak pernah pacaran selama ini karena takut dengan lelaki dan orang asing. Teman-teman di fesbuknya yang berjumlah sekitar tiga puluhan itu semuanya dia kenal. Ternyata banyak pria yang berusaha meng-add dia di tolak mentah-mentah.

            Usut punya usut ternyata ayah dan ibunya bercerai karena ayahnya suka bertindak keras di rumah. Dan satu lagi alasan kenapa dia takut bertemu dengan orang asing yaitu karena dia pernah kena hipnotis di suatu pusat perbelanjaan sampai kehilangan jam dan HP. Hmm... mungkin alasan yang terakhir ini memang sedikit nggak masuk akal tapi apapun alasannya, yang pasti saat ini kami sudah sering jalan bareng dan dia pun merasa nyaman di dekatku. Dan aku pun berjanji untuk tidak pernah bertindak kasar terhadapnya seperti pengalaman yang dialami di keluarganya dulu. Tapi untuk urusan hipnotis, aku mengaku memang aku telah menghipnotisnya agar selalu dekat denganku. Ku hipnotis dia dengan cintaku. Happy forever after my facebook lady... :-)

Medan, Juli 2010


0 komentar:

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP