Mengejar Gadis Facebook
MENGEJAR
GADIS FACEBOOK
Sebuah Cerpen karya Satta Peranginangin
Warnet yang kumasuki ini terlihat sepi,
hanya ada operator warnet dan seorang gadis yang duduk dipojokan sana. Maklum
masih pagi dan hari libur begini biasanya orang-orang pada malas untuk bangun
pagi. Apalagi di lingkungan kampus seperti ini, anak-anak kost pasti masih sedang
pulas-pulasnya tertidur lelap dan bahkan mungkin banyak yang sengaja bangun
agak siang biar nggak perlu lagi sarapan, itung-itung biar penghematan biaya
makan. He he... jadi ingat masa lalu...
”Mbak, komputer mana yang bisa dipakai?”
tanyaku kepada gadis operator warnet.
”Yang mana juga bisa, bang. Silahkan pilih
yang mana aja, kosong semua kok,” katanya.
”Kalau begitu aku pilih komputer yang mbak
pakai itu aja, deh,” kataku menggodanya.
”Wah, jangan. Ntar isi lacinya pada pindah
semua ke kantong abang,” candanya.
Dengan tersenyum-senyum kupilih komputer
yang paling dekat dengan meja operator. Eh, setelah dihidupkan ternyata monitor
nggak mau nyala. ”Mbak, monitor mbak ini kok pada tidur melulu nggak mau dibangunin,
sih?”
”Oh, maaf. Mungkin komputer yang itu sudah
sampai umurnya. Maklum udah tua,” jawab gadis operator itu bercanda. ”Abang
pindah aja deh ke sebelah mbak yang itu,” katanya sambil menunjuk ke arah
satu-satunya manusia pengunjung warnet itu. Dengan hati riang seperti anak
anjing yang diberi makan oleh majikannya, aku dengan senang hati pindah ke
sebelah gadis itu. Lumayan, siapa tahu bisa diajak kenalan...
Sambil bermain Fesbuk (Facebook), sesekali
kulirik ke arah gadis di sebelahku. Hmm, ternyata manis juga makhluk yang satu
ini. Berkulit putih, berambut panjang, dengan kaos putih bersih dan celana
pendek, sungguh suatu pemandangan yang indah untuk mengawali hariku pagi ini.
Setelah mengucapkan kalimat, ”aku
berani...aku berani...aku berani...” di dalam hatiku sebanyak dua puluh kali
akhirnya kuberanikan diriku untuk menyapa gadis itu, ”Hai, kamu senang fesbukan
juga ya?”
Gadis itu menoleh ke arahku, dengan
ragu-ragu dia menjawab, ”Iya, sih. Tapi kalau lagi nggak ada kerjaan saja.”
Ya ampun, merdu banget suaranya. ”Oh,
begitu ya. Kalau begitu bisa dong aku minta alamat fesbuk kamu biar aku add jadi temanku. Nggak apa-apa, kan?
Lumayan biar nambah kenalan.”
Dia diam sejenak, seperti enggan
memberikan alamat fesbuknya. Tapi setelah aku pandangi terus dengan memasang
wajah lugu tanpa dosa akhirnya diberikannya juga alamat fesbuknya. Mungkin dia
sudah yakin kalau tampangku ini bukan tampang penjahat.
Ku buka alamat fesbuknya, ku buka
profilnya. Hmm... namanya Vera. Nama yang umum dan standar, ha ha ha. Ku lihat
daftar teman-temannya, ternyata temannya sedikit, masih berjumlah sekitar tiga
puluhan orang. Hmm... sepertinya dia masih baru dalam dunia fesbuk. Segera ku
tambahkan dalam daftar temanku. Setelah itu ku susun lagi rencana dalam hatiku,
kalimat apalagi yang akan ku pakai untuk meneruskan obrolan dengan dia, ya?
Gadis seperti ini mubazir kalau didiamin saja.
Lalu aku menoleh lagi ke arahnya dan
hendak mengucapkan kata tapi saat bibirku baru terbuka, ku lihat komputernya
sedang di shut down.
”Maaf, ya. Aku duluan...” katanya sambil
tersenyum lalu segera bergegas ke operator warnet, membayar biaya rental, lalu
pergi begitu saja tanpa melirik ke arah aku lagi.
Aku hanya bisa melongo memandang kepergian
makhluk manis yang bahkan namaku saja sepertinya dia tidak ingin tahu. Kok
begitu ya, apakah kegantenganku sudah mulai berkurang?
Esok harinya ku buka lagi fesbukku, ku
periksa apakah permintaan pertemananku kemarin sudah diterimanya? Lalu...
akhirnya yang kuharap-harapkan ternyata... tidak terjadi! Eh, mungkin belum
saatnya terjadi. Barangkali dia belum membuka fesbuknya sehingga dia belum
mengkonfirmasi permintaan pertemananku.
Esok harinya lagi, hari kedua. Ku periksa
lagi fesbukku. Ternyata nasib masih mempermainkan diriku seperti hari kemarin,
ha ha. Kubesarkan hatiku, barangkali dia belum membuka fesbuknya...
Lanjut, hari ketiga. Tak jemu-jemu aku
memeriksa fesbukku. Ternyata nasib senang banget mempermainkan diriku. Mungkinkah
gadis itu belum online-online juga?
Kubesarkan lagi hatiku, maklumlah dia masih anak kuliah, mungkin budget untuk ke warnet minim, jadi pasti
dia belum ke warnet. Oh, pasti begitu!
Hari keempat! Ternyata nasib benar-benar
sudah terbukti tega banget mempermainkan nasibku! Ku lihat gadis itu sudah
meng-update status message
terbarunya. Bukan hanya sekali tapi ada tiga kali. Bahkan dia rajin membalas
komentar cowok-cowok yang memberikan komentar di statusnya. Ya ampun, ternyata
banyak juga sainganku. Tapi kenapa dia belum mengkonfirmasi permintaan
pertemanan dariku? Jelas-jelas dia sudah membuka fesbuk! Ah, ternyata memang nilai
jualku udah turun sampai-sampai diabaikan oleh cewek... Biar kecewa tapi nggak
boleh nangis. Gue kan jantan!
Akhirnya hari-hari terus berlalu sampai
tujuh hari dengan kondisi serupa. Aku dicuekin! Ah, biarlah. Gadis sombong
seperti itu buat apa juga dijadikan teman? Mungkin dia memang nggak pantas buat
kenal dengan orang seganteng diriku. Tapi...kalau aku ganteng kenapa nggak dia
konfirmasi juga ya? Nasib...nasib...
Hari-hari berganti. Dua minggu sudah
berlalu saudara-saudara! Selama itu juga aku bisa memastikan bahwa dirinya
sering online dari hasil pemantauanku terhadap status-statusnya yang silih
berganti di-update. Sungguh sakitnya
perasanku dicuekin seperti itu saudara-saudara! Tapi aku selalu tertawa dalam
hati menghibur hatiku, ha ha ha ha!
Tepat hari ke lima belas, disaat hatiku
sudah pasrah menerima kenyataan bahwa diriku sudah nggak laku lagi di dunia
perfesbukan, ternyata si doi malah mengkonfirmasi permintaan pertemanan dariku.
Whats up? Sebegitu tinggikah kastanya
sehingga membutuhkan waktu dua minggu hanya untuk meng-approve diriku? Ck...ck...
Suatu hari saat aku sedang online dan kulihat melalui kolom chat dia juga sedang online, segera kusapa dirinya, ku
ketikkan kata yang sederhana; ”Hi... J”. Akhirnya ada juga kesempatan ngobrol,
nih. Tapi setelah lama kutunggu, dia nggak juga membalas sepatah katapun.
Mungkin koneksi internet lagi lambat, pikirku. Ku ketikkan lagi kata yang sama,
”Hi... J”. Tetap
nggak di balas. Ku ulangi lagi dengan mengetikkan kata yang sama tapi tetap
nggak dibalas.
Akhirnya aku sadar bahwa si nasib memang
kejam betul! Teganya dia terus menerus mempermainkan diriku. Masa sampai si
cewek off, dia nggak membalas
sedikitpun sapaan ramah dariku? Nggak mungkin karena koneksi internet lagi
lambat!
Beberapa hari kemudian saat aku melihat
dia sedang online, kembali kusapa
dirinya dengan kata yang simple dan tidak
mujarab seperti biasa, ”Hi... J”. Dan seperti biasa lagi, tetap nggak
dibalas. Walaupun aku sudah sadar kalau nasib tega banget mempermainkan diriku
tapi kok aku nggak jera-jera juga terus berusaha mengawali pembicaraan
dengannya? Apakah ini yang dinamakan dengan tidak sadar diri atau tidak tahu
malu? Ah, bodoh amat! Kali ini kutambahkan lagi kalimat, ”kamu kok sombong ya?”. Tapi tidak dibalas. Aku nggak menyerah, ku
ketikkan pesan di wall-nya, ”Hi, masih ingat nggak denganku? Yang dulu
kenalan di warnet, lho.” Namun sepertinya dia memang benar-benar tidak tahu
membaca atau bahkan tidak tahu cara mengetik sama sekali sehingga tetap saja
dia diam mematung, cuek membebek! Bahkan komentarku pada status fesbuknya pun
nggak pernah dia balas.
Suatu pagi saat sedang membeli sarapan lontong
sayur di depan kost-an, aku melihat wajah yang tidak asing lagi sedang
menyeberang jalan raya. Kuperhatikan, ternyata dia gadis fesbuk yang sombong
itu! Lalu dia berhenti di seberang jalan dan menunggu angkot lewat,
kelihatannya dia akan berangkat kuliah. Saat dia memalingkan wajahnya ke
arahku, segera aku menyembunyikan wajahku di balik rak kaca steling tempat bu
Nuri memajang hasil lontongnya – eh, memajang jualan lontong sayurnya!
Beberapa saat kemudian kulirik perlahan
kembali ke arah dia sedang menunggu angkot tadi, ternyata dia sudah pergi. Loh,
kenapa tadi aku sembunyi? Apa aku malu menunjukkan wajahku yang sudah dia tolak
berkali-kali ini? Tapi ada satu kemungkinan yang aku dapat di pagi ini, yaitu
kemungkinan bahwa dia tinggal nggak jauh dari tempat aku tinggal.
Esoknya, kembali kubuka fesbukku. Karena
dia tidak pernah membalas saat aku chat dengan dia maka kali ini kucoba
mengirimkan private message ke inbox-nya. Aku tulis begini, ”Hi... Kenalin aku Anca, yang dulu kenalan
dengan kamu di warnet. Masih ingat, kan?”
Aku tunggu sehari, dua hari, tiga hari...
tetapi message yang aku kirimkan
tidak pernah dia balas walaupun aku tahu kalau dia sudah online dan membaca message-ku.
Aku hanya bisa geleng-geleng kepala dan mengucapkan dalam hati kalimat ngetop
bang Rhoma Irama, ”Sungguh terlalu...”
Tapi aku nggak menyerah dengan nasib, aku
anggap semua ini tantangan! Lalu aku kirim kembali pesan ke inbox-nya. Berharap semoga dia membalas,
aku ketikkan kalimat yang aku pikir agak menyentuh hati wanita. Aku ketik
begini, ”Kenapa kamu nggak membalas
pesanku padahal aku tahu kamu pasti telah membacanya, kan? Sombong banget.
Sombong itu baik nggak, sih? Aku kan bukan penjahat, aku hanya ingin berteman
saja, apa itu salah? Tolong, kalau
aku salah berteman dengan kamu atau kamu memang nggak mau kenal dengan aku,
harap kamu katakan... Trims.”
Namun hari-hari terus berlalu seperti
biasa. Dan seperti biasanya juga dia masih diam mematung, cuek membebek! Dan
nasib semakin bahagia mempermainkan diriku.
Suatu malam saat hendak pulang ke kost,
aku berpapasan dengan gadis yang sepertinya tidak asing walaupun gelap malam membungkus wajahnya. Tidak salah lagi ini
pasti gadis fesbuk yang sombong itu, pikirku. Kuperhatikan wajahnya, tanpa
sengaja dia juga melihat ke arah wajahku. Mata kami bertemu, lalu seolah
menyadari sesuatu segera dipalingkannya pandangannya dariku dan bergegas pergi
dengan cepat melewatiku. Aku kembali terbengong, nasib... nasib...
Beberapa hari kemudian di satu pagi, di satu
tempat jualan lontong, di satu tempat aku beli sarapan seperti biasanya dan di
satu hari yang beruntung, kembali aku melihat satu sosok gadis menyebrang jalan
dan itu adalah satu-satunya gadis fesbuk paling sombong yang pernah aku kenal!
Otakku kembali berpikir, jantungku berdegup kencang, dan seakan amarahku timbul
aku nekad menyusulnya ke seberang jalan. Dari kejauhan dia melihatku datang ke
arahnya dan tingkahnya mulai gelisah, seperti agak takut melihatku mendekat
tapi apa daya angkot yang ditunggunya belum datang juga justru kali ini si
pembawa masalah yang mendatanginya, awas!
”Hei!” kataku sedikit berteriak begitu
tiba didepannya. ”Kamu pasti kenal aku, kan? Dulu kita pernah ketemu di warnet
dan aku meminta alamat fesbuk kamu!”
”I...iya,” jawabnya gugup. ”Kita lain kali
aja ngobrolnya ya, aku mau ke kampus...”
”Sabar dulu, bentar aja,” kataku sambil
kuberanikan diriku menarik tangannya ke emperan kaki lima ruko yang ada di
belakang kami. Anehnya, dia menurut saja aku tarik seperti itu.
Aku menghela nafas, memandangnya yang
sedang kebingungan. Lalu aku berkata, ”Dengar, aku tinggal nggak jauh dari
tempat kamu tinggal. Karena itu kemungkinan kita bertemu setiap hari sangat
besar. Buktinya, dulu kita bertemu nggak sengaja di warnet. Sekarang kita
bertemu secara tidak sengaja hari ini. Nah, apa kamu pikir besok atau lusa kita
nggak ada kemungkinan bertemu lagi?”
Aku menatap lama ke arah matanya.
Dipandangi seperti itu dia jadi tertunduk, ”I..iya juga sih...” jawabnya pelan.
”Iya apanya?” tanyaku lagi memancing
responnya.
”Iya, benar juga sih kalau kita bisa bertemu
lagi besok atau lusa secara tidak sengaja,” jawabnya lirih.
”Kenapa kita bisa bertemu secara tidak
sengaja?” tanyaku lagi sambil tersenyum.
”Karena kita tinggal berdekatan,” jawabnya
pelan.
”Kita sudah terlanjur kenal setelah
pertemuan pertama dulu, jadi apa kamu akan menghindar terus dariku dan
pura-pura nggak kenal setiap kali berpapasan denganku? Apa kamu nyaman berlaku
seperti itu?”
Dia berpikir sejenak, menelan ludah lalu
menjawab, ”Nggak nyaman juga sih kalau pura-pura nggak kenal seperti itu...”
Kutarik nafas panjang lalu kupandang lagi
ke arah matanya dan berkata, ”Lalu kenapa kamu nggak pernah membalas setiap
kali aku menyapa kamu di fesbuk? Kenapa kamu pura-pura nggak pernah melihatku
saat kita berpapasan di malam itu dan kamu malah kabur? Emang tampangku
kelihatannya seperti kriminal, ya?” tanyaku sambil tertawa.
Dia diam saja ditanya seperti itu. ”Lho,
kok diam?” tanyaku.
”Aku nggak bermaksud seperti itu
sebenarnya...”
”Lalu kenapa kamu memperlakukanku seperti
itu?” tanyaku lagi. Dia masih diam.
”Begini saja deh, mungkin kamu belum bisa
menjelaskan sekarang apa alasan kamu. Tapi apapun alasan kamu itu aku ingin
mendengarnya. Walaupun bukan sekarang tapi akan kutunggu sampai kamu merasa
nyaman untuk menceritakannya. Jadi sampai saat itu tiba, aku ingin agar kamu
tidak menghindar dariku lagi, setuju?”
”Hmm... oke...” jawabnya perlahan.
”Nah, karena kamu sudah setuju maka aku
harus memastikan agar kamu tidak kabur lagi nanti.” Lalu aku mengeluarkan HP
dari kantongku. Lalu kuberikan padanya. ”Coba kamu masukin nomer kamu disini.”
Dia
memasukkan nomernya di HPku lalu aku misscall nomer yang diberikannya itu.
Hmm... ternyata itu benar nomer dia soalnya HP di kantongnya berbunyi.
”Nah, sekarang aku temani kamu ke kampus,”
kataku.
”Lho, nggak usah,” jawabnya.
”Dengar ya, sebenarnya masalah kamu dengan
aku itu adalah karena kamu belum terbiasa melihat wajahku yang nggak seberapa
ini. Nanti kalau sudah sering kamu lihat pasti kamu nggak takut lagi deh.”
”Masa sih?”
”Iya, aku beri garansi tiga puluh hari.
Kalau ternyata nanti setelah lebih tiga puluh hari kamu nggak jatuh cinta juga
kepadaku, maka kamu boleh meninggalkanku. Tapi setelah itu aku akan mengejar
kamu lagi!” candaku.
”Ha ha, kamu bisa aja,” jawabnya tertawa.
Hmm... ternyata manis juga senyumnya. Kok nggak dari dulu kamu tersenyum
seperti itu Vera...
Akhirnya aku menemaninya sampai ke kampus.
Sepanjang perjalanan aku terus bercerita dan ngebanyol memancing agar tawanya
yang manis itu keluar.
Setelah itu, hari-hari pun berlalu, aku
tidak pernah lagi mengirim message ke
fesbuknya, nggak pernah mati-matian lagi mengajak dia chat, karena disaat aku ingin ngobrol dengan dia maka aku akan
langsung saja datang ke rumah kostnya. Lalu aku ketahui bahwa ternyata dia
memang nggak pernah pacaran selama ini karena takut dengan lelaki dan orang
asing. Teman-teman di fesbuknya yang berjumlah sekitar tiga puluhan itu
semuanya dia kenal. Ternyata banyak pria yang berusaha meng-add dia di tolak mentah-mentah.
Usut punya usut ternyata ayah dan ibunya
bercerai karena ayahnya suka bertindak keras di rumah. Dan satu lagi alasan
kenapa dia takut bertemu dengan orang asing yaitu karena dia pernah kena
hipnotis di suatu pusat perbelanjaan sampai kehilangan jam dan HP. Hmm...
mungkin alasan yang terakhir ini memang sedikit nggak masuk akal tapi apapun
alasannya, yang pasti saat ini kami sudah sering jalan bareng dan dia pun
merasa nyaman di dekatku. Dan aku pun berjanji untuk tidak pernah bertindak
kasar terhadapnya seperti pengalaman yang dialami di keluarganya dulu. Tapi
untuk urusan hipnotis, aku mengaku memang aku telah menghipnotisnya agar selalu
dekat denganku. Ku hipnotis dia dengan cintaku. Happy forever after my facebook
lady... :-)
Medan, Juli 2010







0 komentar:
Posting Komentar