Panglatu
PANGLATU
Sebuah Cerpen karya Satta Peranginangin
Panglatu!
Alias Panglima Lajang Tua! Istilah yang kerap dipakai di kota
Medan dan
sekitarnya ini sering dipakai untuk menyindir orang yang sudah cukup berumur
tapi tidak kunjung juga mempunyai pasangan atau… bisa juga diperuntukkan bagi
orang yang belum menikah di saat usianya sudah seharusnya menikah. Yah, seperti
diriku yang sampai sekarang ini sudah berumur dua puluh lima tahun tapi tidak pernah merasakan yang
namanya pacaran apalagi menikah! Gimana bisa menikah, wong pacaran aja kagak
pernah?
Sangat
ingin rasanya aku juga merasakan pahit-getir, asam-manis dalam bercinta.
Bagaimana sih rasanya kalau punya seseorang yang memperhatikan, menyayangi dan
mengucapkan kata-kata mesra membuai setiap hari? Pasti pengalaman seperti itu
rasanya sangat sukar diungkapkan dengan kata-kata seperti cerita teman-temanku
yang sering curhat kepadaku. Tapi sampai sekarang diriku hanya cukup sebagai
pendengar yang setia dan penonton yang budiman menyaksikan orang lain dan
teman-temanku menjalani kisah cintanya. Bahkan dalam setahun mereka bisa
berganti kisah cinta sampai dua atau tiga kali sedangkan diriku belum pernah
sekalipun menikmatinya selama umur hidupku yang telah kujalani ini. Cukuplah diriku
hanya menyandang gelar ‘panglatu’ yang dianugerahkan oleh teman-temanku atas
prestasiku memecahkan rekor tidak pernah pacaran selama dua puluh lima tahun hidup di dunia
ini. Eits, jadi panglatu nggak selamanya buruk, lho. Minimal aku belum pernah
merasakan yang namanya patah hati karena putus cinta! He he he…
Sebenarnya
aku tahu apa masalahku. Masalah yang sangat klise dan umum di kalangan
pria-pria loser seperti diriku. Aku
ingat saat SMU dulu. Aku menyukai seorang gadis cantik adik kelasku. Setiap
hari terbayang akan wajahnya. Nggak siang, nggak malam selalu di hantui
wajahnya yang sangat jauh dari kesan wajah hantu. Sampai-sampai sering
kubuatkan puisi tentang dirinya tapi puisi itu hanya menumpuk saja di buku
catatan tanpa seorangpun yang tahu. Jangankan untuk menyampaikan puisi itu
kepadanya, untuk diam di dekatnya lima
detik saja aku nggak sanggup. Entah kenapa aku selalu kabur begitu ku lihat
dirinya mendekat, selalu berpaling muka jika dia menatapku. Bagaimana mungkin
dia mengetahui diriku jika keberadaanku saja tidak kutunjukkan kepadanya? Ck… loser…
Pernah
juga ada seorang gadis manis yang tinggalnya nggak jauh dari tempat tinggalku. Selalu
ku perhatikan kegiatan rutinnya, setiap sore selalu berjalan dari sebuah jalan
utama di pasar tradisional dekat rumah. Karena itu aku bertekad akan mencegat
dia di tengah jalan dan pura-pura tidak sengaja berpapasan dengannya lalu aku
akan mengajaknya ngobrol. Tapi setelah dia nongol entah kenapa aku malah kabur!
Kenapa? Sama setan aja aku nggak takut, tapi kenapa aku malah kabur begitu
melihat malaikat? Ck… dasar loser…
Tapi
sebenarnya ada beberapa gadis yang suka kepada diriku, berhubung wajahku nggak
jelek-jelek amat. Kata orang wajahku lebih ganteng dikitlah dari wajah Tukul.
Tapi gadis-gadis yang mendekat itu selalu aku rasa kurang inilah, kurang
itulah, dengan kata lain jelek terlihat secara fisik di mataku (maaf bagi
gadis-gadis yang merasa dirinya jelek, karena itu jangan pernah merasa diri
anda jelek). Intinya begini, kenapa setiap gadis yang ku suka tidak mendekat
kepadaku? Kenapa justru gadis yang tidak ku suka yang datang mendekat? Dan…
anehnya lagi, pada saat gadis yang tidak ku suka itu telah pacaran dengan
laki-laki lain justru disaat itu aku merasa cemburu, patah hati dan merasa
telah membuang kesempatan berharga selama ini. Sekali lagi, dasar loser!
Dan saat ini aku bertekad untuk tidak jadi
seorang loser lagi. Aku harus pede
dan berani buka mulut saat berbicara dengan wanita! Tapi kenyataannya tekadku
ini sudah berulang-ulang kali ku ucapkan dalam hati sejak bertahun-tahun yang
lalu, berulang dan terus berulang setiap kali aku kabur dari dari gadis. Artinya,
selalu ada tekad tanpa pembuktian! Aku masih saja terus melarikan diri! Dasar loser sejati!
* *** *
Suatu
pagi ketika sedang naik angkot hendak berangkat kerja aku melihat seorang gadis
cantik berpakaian rapi berjalan tergesa-gesa menyusuri trotoar. Lalu aku ingat
kalau wajahnya sepertinya pernah aku kenal. Kalau nggak salah dia adalah adik
kelasku di SMU dulu. Gadis yang dulu menjadi cinta terpendamku. Tapi aku ingin
memastikannya sekali lagi.
Beberapa
hari kemudian aku melihat dia berjalan lagi di tempat yang sama. Aku jadi yakin
kalau dia bekerja di suatu tempat di sekitar situ. Kali ini aku harus berhasil
mengajak dia ngobrol. Tak ada kata loser
lagi! Tekadku sudah kuat!
Esok harinya aku berangkat lebih awal dari
biasanya. Aku sengaja menunggunya di tempat dia biasa melintas. Aku berencana
pura-pura sedang berjalan di jalan itu dan kebetulan berpapasan dengannya lalu
aku akan menyapanya. Mantap! Aku sudah sangat pengalaman menjalankan rencana serupa
sejak dulu kala walaupun tidak pernah berhasil. Tapi kali ini lain ceritanya,
masa aku harus mau terus menerus jadi panglatu?
Kutunggu-tunggu,
lama ku menunggu sampai berkali-kali sudah ku putar ulang lagu ‘menunggumu’
dari Ridho Rhoma namun tak kunjung juga gadis itu menunjukkan batang hidungnya.
Mungkin aku yang terlalu cepat datang ya? Daripada bosan berdiri, kudatangi
warung penjual rokok dan aku beli rokok sebatang walaupun sebenarnya aku bukan
perokok. Mungkin karena gelisah, ku hisap rokok itu. Tapi baru beberapa kali
hisap disertai beberapa kali batukan, di ujung jalan sana kulihat yang kutunggu sudah datang.
Segera ku buang rokok yang tidak enak itu. Lalu aku bergegas menjalankan
rencana dengan jantung bak dipalu seribu godam bertalu-talu bunyinya. Aduh,
mak… Doakan aku ya, mak…
Aku
berjalan dengan langkah mantap sambil pura-pura tidak melihatnya berjalan
mendekat ke arahku. Lalu kulihat dia sudah menatapku dari jauh. Begitu tiba di
depanku segera kusapa, “Hei…” dengan acting
seolah-olah aku terkejut melihat dia.
“Hei
juga,” katanya sambil mengernyit.
“Kamu
kenal dengan aku nggak?” tanyaku berharap dia ingat akan wajahku ini.
“Siapa
ya?” tanyanya sambil tersenyum keheranan.
Wah,
malu juga hatiku mengetahui dia tidak bisa mengingat diriku. Mungkin aku juga
yang salah pada jaman dulu kala tidak pernah berani menampakkan diri di
hadapannya. “Aku Anca, ”kataku. “Kamu Erni, kan?
Dulu sekolah di SMANSAGI?” tanyaku lagi.
“Lho,
kok tahu?” tanyanya heran.
“Aku
dulu abang stambuk kamu,” kataku menjelaskan.
“Oya?
Aku kok nggak ingat, ya?” tanyanya sambil memperhatikan wajahku. Wah, malunya
aku ternyata dia nggak mengenali wajahku. Mau kutaruh dimana wajahku ini? Kalau
ku taruh di saku celana pasti nggak muat, he he. Aku hanya bisa garuk-garuk
kepala karena memang gatal soalnya tadi pagi nggak sempat shampoan karena
buru-buru mau stand by kemari.
Belum
sempat aku berkata-kata lagi, dia langsung meneruskan, “Tapi aku pergi kerja
dulu, ya. Soalnya aku buru-buru, takut telat,” katanya lalu bergegas pergi
tanpa menunggu respon dariku. Tinggallah diriku yang terpana melihatnya berlalu
dengan cepat dari diriku begitu saja.
Tapi
aku nggak menyerah, tiga hari kemudian kutunggu lagi dia di tempat yang sama
dengan modus yang sama. “Eh, ketemu lagi…” sapaku sambil tersenyum. Dia hanya
tertawa saja melihatku dan hendak meneruskan langkahnya tapi segera kucegah,
“Kamu kerja dimana, sih?” tanyaku.
“Tuh,
disana,” jawabnya sambil menunjuk sebuah gedung bank swasta di depan sana. “Sori, ya. Aku
tinggal dulu,” katanya lagi sambil meneruskan langkahnya. Ternyata dia nggak
suka basa-basi, pikirku. Kalau begini, pasti bakal sulit rasanya mengakhiri
status panglatu ini…
Kalau
kejadian seperti ini terjadi lima
tahun yang lalu pasti aku sudah mengundurkan diri tapi kini berbeda ceritanya. I’m different now! Lima hari lagi aku tunggu dia di tempat yang
sama. Aku sengaja nggak datang tiap hari agar tidak terkesan bahwa aku sengaja
menunggunya. Gengsi dong!
“Hei,
jumpa lagi,” kataku begitu berpapasan dengan dia.
“Hei
juga,” katanya sambil tersenyum sebentar lalu bergegas melangkah pergi dengan
buru-buru meninggalkanku tanpa banyak cengkonek. Aku pun pergi dengan perasaan
duka seperti habis nonton film Korea
yang sediiiihhh banget ceritanya. Memang susah ya dapat pacar jaman sekarang
ini? Jangankan untuk dapat pacar, agar bisa berteman akrab saja dengan cewek
sulitnya minta ampun!
Dua
hari kemudian kujumpai lagi dia ditempat yang biasa masih dengan modus yang
biasa dengan kalimat pembuka yang biasa (sepertinya aku memang kurang kreatif
barangkali, ya?) dan dijawabnya sekedar saja tanpa basa-basi dan berlalu begitu
saja seperti biasanya. Mungkin dia memang terbiasa nggak pintar ngomong barangkali,
ya? Atau memang aku yang nggak terbiasa memancing wanita agar berbicara
denganku. Mungkin juga, sih…
Akhirnya
aku menyerah. Aku takkan berusaha menemuinya lagi. Persetan dengannya, masih
banyak wanita di dunia ini! Lagian kan
di dunia ini lebih banyak cewek daripada cowok, nggak mungkinlah aku kehabisan
jatah, he he. Dan kebetulan sekali, berhubung karena rumah kontrakanku sudah
habis masanya maka aku harus pindah dari tempat lama ke kontrakan baru. Aku
takkan melalui jalan itu lagi, jadi pasti aku takkan melihatnya lagi. Baguslah,
aku bisa melupakannya.
* *** *
Saat
aku sudah mulai menikmati suasana baru di tempat tinggal baru dan tentunya
mulai memasang target baru tiba-tiba terlihat lagi olehku target lamaku yang
gagal ku tangkap dulu. Siapakah dia? Yak, dia adalah Erni. Aku melihatnya
sedang menunggu angkot di suatu pagi. Kebetulan saat itu aku sedang sarapan lontong
sayur di sebuah warung. Jantungku kembali dag dig dug dengan kerasnya. Apakah
ini yang namanya jodoh? Hmm, memang yang namanya jodoh takkan kemana.
Esok
harinya aku bangun lebih pagi dan siap siaga bak tentara menunggu kedatangan
musuh. Bedanya, tentara bersembunyi di balik semak belukar sedangkan aku
bersembunyi di warung lontong. Tapi yang enaknya, sambil menunggu sasaran bisa
sambil makan lontong. Tapi lontong yang enak pun terasa hambar saking tegangnya
diriku menanti sang calon pujaan hati. Cabe rawit yang pedas pun terasa tawar
jadinya.
Begitu
dia terlihat di depan mata segera aku beranjak sampai lupa minum dan lupa bayar
sarapan lontong. Untung tukang lontongnya nggak teriak tapi segera mengingatkan
untuk bayar. “Mas, aku bikin lontongnya pake modal, lho,” katanya. Setelah
membayar segera ku hampiri Erni yang sedang berdiri menunggu angkot.
“Hei,
kita jumpa lagi, “sapaku berusaha untuk ramah.
“Hei
juga. Kok bisa ya?” tanyanya keheranan.
“Iya,
aku baru pindah kemari. Nggak tahunya ternyata kamu juga tinggal di sini, ya?
Ternyata kemanapun aku pergi selalu ada dirimu…” candaku.
“Jangan-jangan
kamu nguntit aku selama ini, nih,” katanya sambil tertawa.
“Nggak,
dong. Yang namanya sudah jodoh, mau sembunyi kemana juga pasti ketemu, deh.”
“Ha
ha, bisa aja kamu. Eh, sudah dulu ya. Tuh angkot aku udah datang.” Lalu dihentikannya
angkot itu dan bergegas naik. Setelah mengambil tempat duduk di dalam angkot
tiba-tiba dia terkejut. “Lho, kamu kok disini juga?” tanyanya terkejut melihat
aku telah duduk di sebelahnya. Aku juga sebenarnya nggak kalah terkejutnya
ketika menyadari bahwa diriku sudah ikut naik ke dalam angkot tapi segera aku
berkilah, “Lho, ini kan
angkutan umum, nggak melanggar hukum dong kalau aku ikutan naik.”
Dia
hanya tersenyum saja lalu diam. Aku pun diam. Aku berpikir keras bagaimana
memulai percakapan dengannya. “Kamu pernah bertemu siapa saja kawan-kawan dari
sekolah kita dulu?” tanyaku mencoba membuka topik seakan-akan aku peduli dengan
kawan-kawan lamaku dulu padahal aku hanya ingin ngobrol aja dengan dia.
“Hmm,
ada sih beberapa. Kawan seangkatanku ada Alex, Very dan Riko. Kawan seangkatan
kamu ada Heri dan Vera,” jawabnya.
“Aku
juga pernah ketemu dengan mereka. Tapi sayang kita nggak bisa kumpul-kumpul
sekedar mengenang masa lalu di sekolah,” kataku.
“Maklumlah
semuanya sudah berbeda. Kita semua sudah sibuk sekarang,” katanya menjelaskan.
“Berarti
kamu sibuk banget ya? Sehingga kamu selalu terburu-buru kabur tanpa basa-basi
setiap kali kita ketemu?” tanyaku sambil tertawa.
Dia
pun tertawa, lalu menjawab, “Aku baru saja diterima kerja di Bank itu. Jadi aku
ingin menunjukkan disiplin yang baik. Masa baru kerja sudah berani terlambat?
Ntar deh terlambatnya kalau udah bosan kerja disana,” tawanya lagi.
“Aku
kira kamu takut sama aku.”
“Iya,
sedikit…” jawabnya tersenyum.
Aku
pun tertawa. Melihat responnya, aku pun semakin berani berbicara, “Sebenarnya
aku bertemu dengan kamu begini bukan kehendakku. Aku nggak peduli dengan kamu,
karena aku bukan penggemar kamu. Tapi aku ini adalah orang baik yang ramah dan
bersahabat kepada siapa saja,” kuhentikan bicaraku dan kupandang dia. Dia hanya
mengernyit heran. Lalu ku lanjutkan lagi, ”Jadi sebagai orang yang ramah dan
tidak sombong sudah sepatutnya aku ramah dan menyapa kamu apalagi mengingat kalau
kamu ini adalah adik kelasku dulu. Lagian aku berencana mengadakan reuni SMU
dalam waktu dekat ini. Jadi aku minta nomer hape kamu agar kamu masukin di
hapeku ini,” kataku sambil menyodorkan hape.
“Buat
apa nomer hape?” tanyanya.
“Duileh,
non. Ya, buat menghubungi kamu lah. Bagaimana aku bisa menghubungi kamu kalau
nanti kita mengadakan reuni? Nggak mungkinlah aku tega masukin nomer kamu ke
kolom ‘cari jodoh’ di Koran,” candaku. Melihat dia hanya senyum-senyum saja
tanpa ada tindakan segera aku berkata lagi, “Kalau kamu nggak mau masukin nomer
kamu di hapeku biarlah aku yang masukin nomer aku ke hape kamu. Kemarikan hape
kamu.”
“Ha
ha, iya – iya. Nggak sabaran amat sih,” tawanya sambil menerima hapeku lalu
menuliskan nomernya disitu. Asiiikkk, akhirnya berhasil juga skenario yang
kubuat.
“Kalau
begitu nanti malam kita makan bareng ya. Udah lama aku nggak cerita-cerita
dengan teman sekolah dulu. Lumayan mengingat memori masa muda. Mana tahu nanti
setelah kita cerita-cerita kamu malah jatuh cinta sama aku. Tapi kalau nanti
kamu udah jatuh cinta, kamu harus berjuang agar bisa mendapatkan aku soalnya
saingan kamu banyak,” candaku.
Dia
pun tertawa lalu berkata, “Okelah, nanti call
saja aku ya.” Mendengar itu jantungku serasa ingin melompat keluar saking
senangnya. Ingin kuguncang-guncang angkot ini tapi aku harus jaim dong. Harus
terlihat biasa saja seakan itu bukan hal yang luar biasa bagiku.
Akhirnya
dia pun sampai di tempat kerjanya dan berpamitan denganku. Hatiku lega bukan
main. Sekarang aku sudah naik level, sudah selangkah lebih maju. Aku takkan
menyerah, akan kudapatkan dia, tekadku. Kali ini ku akhiri status panglatu ini
sampai disini! Lalu tiba-tiba mulutku terasa pedas, ternyata kebanyakan makan
cabe tadi waktu sarapan dan lupa minum. Parahnya lagi, aku sadar bakal kena
damprat di tempat kerjaku nanti karena aku terlambat, soalnya aku salah naik
angkot!







0 komentar:
Posting Komentar