Sabtu, 23 November 2013

Panglatu


PANGLATU

Sebuah Cerpen karya Satta Peranginangin


Panglatu! Alias Panglima Lajang Tua! Istilah yang kerap dipakai di kota Medan dan sekitarnya ini sering dipakai untuk menyindir orang yang sudah cukup berumur tapi tidak kunjung juga mempunyai pasangan atau… bisa juga diperuntukkan bagi orang yang belum menikah di saat usianya sudah seharusnya menikah. Yah, seperti diriku yang sampai sekarang ini sudah berumur dua puluh lima tahun tapi tidak pernah merasakan yang namanya pacaran apalagi menikah! Gimana bisa menikah, wong pacaran aja kagak pernah?
 Sangat ingin rasanya aku juga merasakan pahit-getir, asam-manis dalam bercinta. Bagaimana sih rasanya kalau punya seseorang yang memperhatikan, menyayangi dan mengucapkan kata-kata mesra membuai setiap hari? Pasti pengalaman seperti itu rasanya sangat sukar diungkapkan dengan kata-kata seperti cerita teman-temanku yang sering curhat kepadaku. Tapi sampai sekarang diriku hanya cukup sebagai pendengar yang setia dan penonton yang budiman menyaksikan orang lain dan teman-temanku menjalani kisah cintanya. Bahkan dalam setahun mereka bisa berganti kisah cinta sampai dua atau tiga kali sedangkan diriku belum pernah sekalipun menikmatinya selama umur hidupku yang telah kujalani ini. Cukuplah diriku hanya menyandang gelar ‘panglatu’ yang dianugerahkan oleh teman-temanku atas prestasiku memecahkan rekor tidak pernah pacaran selama dua puluh lima tahun hidup di dunia ini. Eits, jadi panglatu nggak selamanya buruk, lho. Minimal aku belum pernah merasakan yang namanya patah hati karena putus cinta! He he he…
Sebenarnya aku tahu apa masalahku. Masalah yang sangat klise dan umum di kalangan pria-pria loser seperti diriku. Aku ingat saat SMU dulu. Aku menyukai seorang gadis cantik adik kelasku. Setiap hari terbayang akan wajahnya. Nggak siang, nggak malam selalu di hantui wajahnya yang sangat jauh dari kesan wajah hantu. Sampai-sampai sering kubuatkan puisi tentang dirinya tapi puisi itu hanya menumpuk saja di buku catatan tanpa seorangpun yang tahu. Jangankan untuk menyampaikan puisi itu kepadanya, untuk diam di dekatnya lima detik saja aku nggak sanggup. Entah kenapa aku selalu kabur begitu ku lihat dirinya mendekat, selalu berpaling muka jika dia menatapku. Bagaimana mungkin dia mengetahui diriku jika keberadaanku saja tidak kutunjukkan kepadanya? Ck… loser
Pernah juga ada seorang gadis manis yang tinggalnya nggak jauh dari tempat tinggalku. Selalu ku perhatikan kegiatan rutinnya, setiap sore selalu berjalan dari sebuah jalan utama di pasar tradisional dekat rumah. Karena itu aku bertekad akan mencegat dia di tengah jalan dan pura-pura tidak sengaja berpapasan dengannya lalu aku akan mengajaknya ngobrol. Tapi setelah dia nongol entah kenapa aku malah kabur! Kenapa? Sama setan aja aku nggak takut, tapi kenapa aku malah kabur begitu melihat malaikat? Ck… dasar loser
Tapi sebenarnya ada beberapa gadis yang suka kepada diriku, berhubung wajahku nggak jelek-jelek amat. Kata orang wajahku lebih ganteng dikitlah dari wajah Tukul. Tapi gadis-gadis yang mendekat itu selalu aku rasa kurang inilah, kurang itulah, dengan kata lain jelek terlihat secara fisik di mataku (maaf bagi gadis-gadis yang merasa dirinya jelek, karena itu jangan pernah merasa diri anda jelek). Intinya begini, kenapa setiap gadis yang ku suka tidak mendekat kepadaku? Kenapa justru gadis yang tidak ku suka yang datang mendekat? Dan… anehnya lagi, pada saat gadis yang tidak ku suka itu telah pacaran dengan laki-laki lain justru disaat itu aku merasa cemburu, patah hati dan merasa telah membuang kesempatan berharga selama ini. Sekali lagi, dasar loser!
    Dan saat ini aku bertekad untuk tidak jadi seorang loser lagi. Aku harus pede dan berani buka mulut saat berbicara dengan wanita! Tapi kenyataannya tekadku ini sudah berulang-ulang kali ku ucapkan dalam hati sejak bertahun-tahun yang lalu, berulang dan terus berulang setiap kali aku kabur dari dari gadis. Artinya, selalu ada tekad tanpa pembuktian! Aku masih saja terus melarikan diri! Dasar loser sejati!

* *** *

Suatu pagi ketika sedang naik angkot hendak berangkat kerja aku melihat seorang gadis cantik berpakaian rapi berjalan tergesa-gesa menyusuri trotoar. Lalu aku ingat kalau wajahnya sepertinya pernah aku kenal. Kalau nggak salah dia adalah adik kelasku di SMU dulu. Gadis yang dulu menjadi cinta terpendamku. Tapi aku ingin memastikannya sekali lagi.
Beberapa hari kemudian aku melihat dia berjalan lagi di tempat yang sama. Aku jadi yakin kalau dia bekerja di suatu tempat di sekitar situ. Kali ini aku harus berhasil mengajak dia ngobrol. Tak ada kata loser lagi! Tekadku sudah kuat!
 Esok harinya aku berangkat lebih awal dari biasanya. Aku sengaja menunggunya di tempat dia biasa melintas. Aku berencana pura-pura sedang berjalan di jalan itu dan kebetulan berpapasan dengannya lalu aku akan menyapanya. Mantap! Aku sudah sangat pengalaman menjalankan rencana serupa sejak dulu kala walaupun tidak pernah berhasil. Tapi kali ini lain ceritanya, masa aku harus mau terus menerus jadi panglatu?
Kutunggu-tunggu, lama ku menunggu sampai berkali-kali sudah ku putar ulang lagu ‘menunggumu’ dari Ridho Rhoma namun tak kunjung juga gadis itu menunjukkan batang hidungnya. Mungkin aku yang terlalu cepat datang ya? Daripada bosan berdiri, kudatangi warung penjual rokok dan aku beli rokok sebatang walaupun sebenarnya aku bukan perokok. Mungkin karena gelisah, ku hisap rokok itu. Tapi baru beberapa kali hisap disertai beberapa kali batukan, di ujung jalan sana kulihat yang kutunggu sudah datang. Segera ku buang rokok yang tidak enak itu. Lalu aku bergegas menjalankan rencana dengan jantung bak dipalu seribu godam bertalu-talu bunyinya. Aduh, mak… Doakan aku ya, mak…
Aku berjalan dengan langkah mantap sambil pura-pura tidak melihatnya berjalan mendekat ke arahku. Lalu kulihat dia sudah menatapku dari jauh. Begitu tiba di depanku segera kusapa, “Hei…” dengan acting seolah-olah aku terkejut melihat dia.
“Hei juga,” katanya sambil mengernyit.
“Kamu kenal dengan aku nggak?” tanyaku berharap dia ingat akan wajahku ini.
“Siapa ya?” tanyanya sambil tersenyum keheranan.
Wah, malu juga hatiku mengetahui dia tidak bisa mengingat diriku. Mungkin aku juga yang salah pada jaman dulu kala tidak pernah berani menampakkan diri di hadapannya. “Aku Anca, ”kataku. “Kamu Erni, kan? Dulu sekolah di SMANSAGI?” tanyaku lagi.
“Lho, kok tahu?” tanyanya heran.
“Aku dulu abang stambuk kamu,” kataku menjelaskan.
“Oya? Aku kok nggak ingat, ya?” tanyanya sambil memperhatikan wajahku. Wah, malunya aku ternyata dia nggak mengenali wajahku. Mau kutaruh dimana wajahku ini? Kalau ku taruh di saku celana pasti nggak muat, he he. Aku hanya bisa garuk-garuk kepala karena memang gatal soalnya tadi pagi nggak sempat shampoan karena buru-buru mau stand by kemari.
Belum sempat aku berkata-kata lagi, dia langsung meneruskan, “Tapi aku pergi kerja dulu, ya. Soalnya aku buru-buru, takut telat,” katanya lalu bergegas pergi tanpa menunggu respon dariku. Tinggallah diriku yang terpana melihatnya berlalu dengan cepat dari diriku begitu saja.
Tapi aku nggak menyerah, tiga hari kemudian kutunggu lagi dia di tempat yang sama dengan modus yang sama. “Eh, ketemu lagi…” sapaku sambil tersenyum. Dia hanya tertawa saja melihatku dan hendak meneruskan langkahnya tapi segera kucegah, “Kamu kerja dimana, sih?” tanyaku.
“Tuh, disana,” jawabnya sambil menunjuk sebuah gedung bank swasta di depan sana. “Sori, ya. Aku tinggal dulu,” katanya lagi sambil meneruskan langkahnya. Ternyata dia nggak suka basa-basi, pikirku. Kalau begini, pasti bakal sulit rasanya mengakhiri status panglatu ini…
Kalau kejadian seperti ini terjadi lima tahun yang lalu pasti aku sudah mengundurkan diri tapi kini berbeda ceritanya. I’m different now! Lima hari lagi aku tunggu dia di tempat yang sama. Aku sengaja nggak datang tiap hari agar tidak terkesan bahwa aku sengaja menunggunya. Gengsi dong!
“Hei, jumpa lagi,” kataku begitu berpapasan dengan dia.
“Hei juga,” katanya sambil tersenyum sebentar lalu bergegas melangkah pergi dengan buru-buru meninggalkanku tanpa banyak cengkonek. Aku pun pergi dengan perasaan duka seperti habis nonton film Korea yang sediiiihhh banget ceritanya. Memang susah ya dapat pacar jaman sekarang ini? Jangankan untuk dapat pacar, agar bisa berteman akrab saja dengan cewek sulitnya minta ampun!
Dua hari kemudian kujumpai lagi dia ditempat yang biasa masih dengan modus yang biasa dengan kalimat pembuka yang biasa (sepertinya aku memang kurang kreatif barangkali, ya?) dan dijawabnya sekedar saja tanpa basa-basi dan berlalu begitu saja seperti biasanya. Mungkin dia memang terbiasa nggak pintar ngomong barangkali, ya? Atau memang aku yang nggak terbiasa memancing wanita agar berbicara denganku. Mungkin juga, sih…
Akhirnya aku menyerah. Aku takkan berusaha menemuinya lagi. Persetan dengannya, masih banyak wanita di dunia ini! Lagian kan di dunia ini lebih banyak cewek daripada cowok, nggak mungkinlah aku kehabisan jatah, he he. Dan kebetulan sekali, berhubung karena rumah kontrakanku sudah habis masanya maka aku harus pindah dari tempat lama ke kontrakan baru. Aku takkan melalui jalan itu lagi, jadi pasti aku takkan melihatnya lagi. Baguslah, aku bisa melupakannya.

* *** *
           
Saat aku sudah mulai menikmati suasana baru di tempat tinggal baru dan tentunya mulai memasang target baru tiba-tiba terlihat lagi olehku target lamaku yang gagal ku tangkap dulu. Siapakah dia? Yak, dia adalah Erni. Aku melihatnya sedang menunggu angkot di suatu pagi. Kebetulan saat itu aku sedang sarapan lontong sayur di sebuah warung. Jantungku kembali dag dig dug dengan kerasnya. Apakah ini yang namanya jodoh? Hmm, memang yang namanya jodoh takkan kemana.
Esok harinya aku bangun lebih pagi dan siap siaga bak tentara menunggu kedatangan musuh. Bedanya, tentara bersembunyi di balik semak belukar sedangkan aku bersembunyi di warung lontong. Tapi yang enaknya, sambil menunggu sasaran bisa sambil makan lontong. Tapi lontong yang enak pun terasa hambar saking tegangnya diriku menanti sang calon pujaan hati. Cabe rawit yang pedas pun terasa tawar jadinya.
Begitu dia terlihat di depan mata segera aku beranjak sampai lupa minum dan lupa bayar sarapan lontong. Untung tukang lontongnya nggak teriak tapi segera mengingatkan untuk bayar. “Mas, aku bikin lontongnya pake modal, lho,” katanya. Setelah membayar segera ku hampiri Erni yang sedang berdiri menunggu angkot.
“Hei, kita jumpa lagi, “sapaku berusaha untuk ramah.
“Hei juga. Kok bisa ya?” tanyanya keheranan.
“Iya, aku baru pindah kemari. Nggak tahunya ternyata kamu juga tinggal di sini, ya? Ternyata kemanapun aku pergi selalu ada dirimu…” candaku.
“Jangan-jangan kamu nguntit aku selama ini, nih,” katanya sambil tertawa.
“Nggak, dong. Yang namanya sudah jodoh, mau sembunyi kemana juga pasti ketemu, deh.”
“Ha ha, bisa aja kamu. Eh, sudah dulu ya. Tuh angkot aku udah datang.” Lalu dihentikannya angkot itu dan bergegas naik. Setelah mengambil tempat duduk di dalam angkot tiba-tiba dia terkejut. “Lho, kamu kok disini juga?” tanyanya terkejut melihat aku telah duduk di sebelahnya. Aku juga sebenarnya nggak kalah terkejutnya ketika menyadari bahwa diriku sudah ikut naik ke dalam angkot tapi segera aku berkilah, “Lho, ini kan angkutan umum, nggak melanggar hukum dong kalau aku ikutan naik.”
Dia hanya tersenyum saja lalu diam. Aku pun diam. Aku berpikir keras bagaimana memulai percakapan dengannya. “Kamu pernah bertemu siapa saja kawan-kawan dari sekolah kita dulu?” tanyaku mencoba membuka topik seakan-akan aku peduli dengan kawan-kawan lamaku dulu padahal aku hanya ingin ngobrol aja dengan dia.
“Hmm, ada sih beberapa. Kawan seangkatanku ada Alex, Very dan Riko. Kawan seangkatan kamu ada Heri dan Vera,” jawabnya.
“Aku juga pernah ketemu dengan mereka. Tapi sayang kita nggak bisa kumpul-kumpul sekedar mengenang masa lalu di sekolah,” kataku.
“Maklumlah semuanya sudah berbeda. Kita semua sudah sibuk sekarang,” katanya menjelaskan.
“Berarti kamu sibuk banget ya? Sehingga kamu selalu terburu-buru kabur tanpa basa-basi setiap kali kita ketemu?” tanyaku sambil tertawa.
Dia pun tertawa, lalu menjawab, “Aku baru saja diterima kerja di Bank itu. Jadi aku ingin menunjukkan disiplin yang baik. Masa baru kerja sudah berani terlambat? Ntar deh terlambatnya kalau udah bosan kerja disana,” tawanya lagi.
“Aku kira kamu takut sama aku.”
“Iya, sedikit…” jawabnya tersenyum.
Aku pun tertawa. Melihat responnya, aku pun semakin berani berbicara, “Sebenarnya aku bertemu dengan kamu begini bukan kehendakku. Aku nggak peduli dengan kamu, karena aku bukan penggemar kamu. Tapi aku ini adalah orang baik yang ramah dan bersahabat kepada siapa saja,” kuhentikan bicaraku dan kupandang dia. Dia hanya mengernyit heran. Lalu ku lanjutkan lagi, ”Jadi sebagai orang yang ramah dan tidak sombong sudah sepatutnya aku ramah dan menyapa kamu apalagi mengingat kalau kamu ini adalah adik kelasku dulu. Lagian aku berencana mengadakan reuni SMU dalam waktu dekat ini. Jadi aku minta nomer hape kamu agar kamu masukin di hapeku ini,” kataku sambil menyodorkan hape.
“Buat apa nomer hape?” tanyanya.
“Duileh, non. Ya, buat menghubungi kamu lah. Bagaimana aku bisa menghubungi kamu kalau nanti kita mengadakan reuni? Nggak mungkinlah aku tega masukin nomer kamu ke kolom ‘cari jodoh’ di Koran,” candaku. Melihat dia hanya senyum-senyum saja tanpa ada tindakan segera aku berkata lagi, “Kalau kamu nggak mau masukin nomer kamu di hapeku biarlah aku yang masukin nomer aku ke hape kamu. Kemarikan hape kamu.”
“Ha ha, iya – iya. Nggak sabaran amat sih,” tawanya sambil menerima hapeku lalu menuliskan nomernya disitu. Asiiikkk, akhirnya berhasil juga skenario yang kubuat.
“Kalau begitu nanti malam kita makan bareng ya. Udah lama aku nggak cerita-cerita dengan teman sekolah dulu. Lumayan mengingat memori masa muda. Mana tahu nanti setelah kita cerita-cerita kamu malah jatuh cinta sama aku. Tapi kalau nanti kamu udah jatuh cinta, kamu harus berjuang agar bisa mendapatkan aku soalnya saingan kamu banyak,” candaku.
Dia pun tertawa lalu berkata, “Okelah, nanti call saja aku ya.” Mendengar itu jantungku serasa ingin melompat keluar saking senangnya. Ingin kuguncang-guncang angkot ini tapi aku harus jaim dong. Harus terlihat biasa saja seakan itu bukan hal yang luar biasa bagiku.


Akhirnya dia pun sampai di tempat kerjanya dan berpamitan denganku. Hatiku lega bukan main. Sekarang aku sudah naik level, sudah selangkah lebih maju. Aku takkan menyerah, akan kudapatkan dia, tekadku. Kali ini ku akhiri status panglatu ini sampai disini! Lalu tiba-tiba mulutku terasa pedas, ternyata kebanyakan makan cabe tadi waktu sarapan dan lupa minum. Parahnya lagi, aku sadar bakal kena damprat di tempat kerjaku nanti karena aku terlambat, soalnya aku salah naik angkot!

Medan, 3 Agustus 2010



0 komentar:

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP