Perwujudan Aksara Hati
Kumpulan Puisi karya Satta Peranginangin
Kecamuk Rindu Dendam
Mentariku ada tapi tak bisa kunikmati sinarnya
Lautan ini pun tak kuasa kurenangi
Hanya kecamuk rindu dendam membunuh kalbu
Kadang kuat, kadang lemah, kadang tegar, kadang rapuh
Kadang seperti ayah yang tak romantis
Hanya mengerti menafkahi dan menantang dunia
Kadang seperti anak kecil
Hanya menangis merindukan gurauan
Bintang fajar itu telah letih bersembunyi
Dia juga ingin menyinari bumi...
Sesal
Telah kulahirkan batu neraka
Dari untaian kata-kata merdu tanpa suara
Dan kurajam dengan perih tanpa luka
Menyabik jantung bayi-bayi lemah gemulai tanpa daya
Tapi... Nuranikah dia?
Yang menghujamkan sesal tiga puluh liang ke ulu dada?
Tangis tanpa air mata pecahkan tanya di tangga usia.
Only God Can Judge Me!
Karya Abadi
Kau Pinta kulahirkan puisi
Larik kalimah nan menyanjung hati
Namun, bilakah ia masih berarti
Tatkala telah kau baca berulang kali?
Kau pinta kukaryakan sajak rindu
Bait kalimah nan membuai kalbu
Tapi, akankah kau paham selalu
Makna yang ingin kutuangkan padamu?
Tiada lagu yang selamanya disukai
Begitupun puisi yang bagimu kurangkai
Karena itu, apalah guna kucipta nanti
Bila akhirnya takkan abadi
Andaipun kugoreskan sepenggal karya
Takkan pernah wujudnya sempurna
Karena takkan cukup hanya kata
Sebagai wali hati dan rasa
Tuk menggambarkan warnamu disana
Mampukah puisiku melampaui indahmu?
Akankah sajakku memuaskan hasratmu?
Bagiku, kaulah karya abadi
Yang selalu ingin kuresapi
Dan kubingkai indah dihati
Karena kaulah puisi terindah untukku
Dan akulah sajak cinta terbaik untukmu
Bila Kau Bimbang
Bila tumbuh bimbangmu akan setiaku
Yakinlah tak berpaling aku
Kala meragu pikirmu akan tulusku
Percayalah tak berdusta aku
Namun bila emosi taklukkan kita
Bibir pun tajam menusuk dada
Kau biarkankah hati menangis?
Puaskah batinmu kala dia teriris?
Tiada hidup tanpa masalah
Tiada cinta tak pernah marah
Tapi perahu nan berkali dibentur karang
Mesti karam, tenggelam, tak mampu mengambang
Impianku, tujuan kita setia mengarah
Labuh di dermaga tiada gundah
Niscaya cinta pasti bertahan
Karena cinta adalah kekuatan
Tapi bila itu telah tiada
Usah dipaksa asmara kita
Karena kita takkan berlayar tanpanya
Karena Kau Adalah Kau
Menunduk hatiku trenyuh luluh
Menyanjung puisi nan kau ukir
Sesaat terhilang asa laksana kayu rapuh
Namun lekas memekar semangat bak pucuk tumbuh
Terselip sebuah harapan nun jauh digaris waktu
Takkan tangan berpangku menangisi keinginan takdir
Tulislah sebuah narasi tentangmu
Bukan fiksi pengantar tidur jiwa-jiwa yang sepi
Tapi Rangkailah ode kepahlawanan
Motivator bagi jiwa-jiwa yang lemah
Yang kelak menjelma hymne bagi para pejuang hidup
Berteriaklah...
Mengamuklah...
Cabik kafan yang menutup mata
Pandang kekuatan yang memberimu hidup
Lepaskan belenggu yang merantai kaki
Berlarilah terus kedepan
Hancurkan tembok batasan-batasan impian
Dan percayalah
Kau akan menang
Karena kau adalah kau!
Kesialan Yang Kurindukan
Ketika aku terjatuh kedalamnya...
Maka aku tak mampu lagi memegang teguh
Prinsip-prinsip hidupku selama ini
Aku mengabaikan logika
Yang kujadikan panutan dalam hidupku
Bahkan aku tidak memperdulikan kekurangannya
Yang selama ini dalam hidupku
Merupakan hal-hal yang ku anggap harus kujauhi
Lalu...
Saat kehilangannya...
Aku terpaksa mengakui
Bahwa aku tidak setegar yang selama ini kusombongkan!
Inilah penyakit yang disebut "cinta"
Dan ketika hal ini menderaku
Kuakui aku memang sedang ketimpa sial!
Kesialan yang akan kurindukan lagi
Entah kapan akan menghampiriku lagi...






0 komentar:
Posting Komentar