Curhat Serigala Tua Tentang Rembulan Malam
CURHAT SERIGALA TUA TENTANG REMBULAN MALAM
Sebuah cerpen karya Satta Peranginangin
Sebenarnya
wajahnya hanyalah biasa, cantik tiada, jelek tak juga. Hidungnya besar dan pesek cerminan wajah pribumi, tak terkesan sangar atau jutek melainkan
ramah sekali. Pipi bakpao dengan wajah bundar memaksaku untuk lapar setiap
kali mataku memandang
nanar. Kulitnya termasuk hitam, setidaknya begitulah yang terekam, kala mataku temaram menelusur foto-fotonya di masa silam. Dia kini sungguh pandai memanipulasi tampilannya, pintar merawat tubuhnya nan semampai itu sehingga
kulit legam itu tersaji bening seperti bulan purnama yang teduh membuat mata
luluh hatiku pun jatuh. Namun kecantikan palsu itu tiada kuanggap tabu,
meskipun kutahu binarnya takkan lama beradu. Yang kuharap kasihnya tidaklah
imitasi atau sekedar umbar janji melainkan
kuingin abadi. Keindahan itu tidak alami, tapi tiada
menghalangi rasa kasihku karena bukan oleh kecantikan kududukkan hatiku dalam pangkuan.
Gerak-geriknya
yang selembut ratu, senyumnya yang
malu-malu, dan irama suaranya yang merdu membuat hatiku terunduk syahdu.
Keakraban membuatku luluh, dan bermacam persamaan membuat hasrat berlabuh. Namun akulah komedian yang
menggelitik tawa malu-malu itu jadi tawa menggebu. Aku yang menghipnotis alam
bekunya mengeluarkan sisi lain dari dalam dirinya yang lembut menjadi semraut. Aku binatang rakus yang
menikmati bakpao itu sampai mampus. Akulah serigala yang menelusuri malam purnama yang pasrah itu dengan dahaga, berbaring
di alam telanjang yang membentang sampai lelahku meradang. Begitulah aku
memeluknya menjadi pengisi episode bahagia dalam sinema hidupku yang fana.
Tapi aku serigala tua yang lelah berpetualang. Aku
ingin membawanya pulang. Menemaniku
berbaring di atas ranjang, sampai petang datang, hingga
malam takkan berganti siang. Namun impian hanya angan-angan
nan tak kunjung menjelang.
Bila terkenang segenap kegilaan
yang telah dilahirkan oleh kebersamaan tak pernah terpikirkan aku akan
kehilangan. Kala teringat setiap hasrat yang melahirkan kasih erat melekat, tak pernah kuharap kini dia memilih minggat. Tak kusangka ternyata dirinya laksana
rembulan malam yang
bebas menyinari apa saja yang dia damba. Dia dustai serigala tua ini! Kehangatan yang kupeluk
selama ini, yang kukira cinta sejati, ternyata kepalsuan asli. Kini dia dibelahan bumi sana, memberikan belahan dadanya
untuknya, meninggalkan belahan hatinya disini nelangsa, menyeret sebelah
jiwanya semakin mendekati neraka. Disana dia menyusui bayi kelaparan lainnya, memberikan makanannya yang basi dan nista.
Harusnya aku tau sedari dulu kalau dia takkan mampu setia menunggu. Karena
dari catatan hidupnya telah kusaksikan bahwa sosoknya tak mungkin bertahan
dalam kesepian. Dia tak pernah bertahan dengan kekasihnya bila sudah terpisah
jarak, segera saja akan diselesaikan dengan pedihnya lewat drama yang
menyentak, dan secepat itu pengganti yang baru dipilihnya meski tak layak.
Dimana pun dia berada selalu saja ada yang akan mengisi kekosongan hidupnya.
Dia sesosok perempuan mati suri yang tidak bisa hidup tanpa lelaki. Rembulan
malam itu akan selalu menyinari bagian bumi dimana tempatnya berada dan esok
hari dia akan pergi menyinari sisi bumi lainnya.
Tapi seakan tak
berdosa, seolah tiada ternoda, dia sangkal semua. Dia tertawa meringis, memainkan drama yang dia
tulis,
selayaknya pujangga sadis yang suka melihatku menangis. Intonasi suaranya, mimik wajahnya, seolah penuh kejujuran
tapi sarat
kepalsuan. Bahkan dahulu seringkali dia bertahan dalam kebohongan dan aku mampu dipojokkan dalam
posisi yang tersalahkan karena aku telah lancang memfatwakan tuduhan. Lalu akhirnya kebohongannya seringkali terbukti dan setelah itu terjadi terpaksa dia selalu
mengakui. Oleh
karena itu laki-laki lugu dan kurang laku yang melihatnya lewat paras ayu pasti akan selalu terbelenggu dalam dramanya itu.
Remuk hatiku
berdarah-darah, bahkan sumpah serapah tak cukup hapus amarah. Kucoba pasrah dalam lelah,
semoga letih membasuh perih dan menghilangkan rasa kasih. Tapi aku tak pernah bisa, tak pernah kuasa sekuat apapun
kucoba. Sementara dia selalu datang memamerkan permainannya, menyiasati seolah kepalsuan
adalah kebenaran. Dan selalu dia menunjukkan kebersamaannya dengan makhluk
pengganti diriku. Aku telah relakan
dia bersama laki-laki tak laku itu. Aku tahu laki-laki itu pasti akan mengemis
cinta padanya karena tak ada perempuan lain yang mau mendekat padanya. Aku akan
selalu menertawakan laki-laki bodoh itu.
Tapi aku tak ingin perempuan rembulan malam itu datang menghantam hatiku lagi,
aku tak bisa sembunyi memendam diri, aku tak mampu pergi. Karena
saat disini dia akan bersamaku lalu saat disana dia akan bersamanya. Jalan satu-satunya, dia harus menghilang dari hidupku. Aku harus membuatnya benci padaku agar dia benar-benar musnah dari duniaku. Ya, aku akan
membuatnya muak padaku dan takkan pernah menampakkan diri lagi mengejekku. Bagaimana aku akan
membuatnya membenciku? Biarlah itu akan menjadi bagian dari episode selanjutnya kisah hidupku.
Atau mungkin kelak dia akan
membenciku setelah membaca tulisanku ini. J
Catt: Kisah ini hanyalah fiktif belaka, hanyalah perwujudan karya sastra saja, jika ada kesamaan cerita berarti itu sudah takdir anda! :-p
Medan, 25 Maret 2013





