Perlukah alasan untuk mencintai?
PERLUKAH ALASAN UNTUK MENCINTAI?
By. Satta Peranginangin
Mungkin
anda pernah mendengar cerita ini, tapi akan saya ceritakan kembali dengan versi
saya sendiri. Suatu ketika seorang istri menanyakan kepada suaminya apa alasan
suaminya mencintai dia. Tapi suaminya tersebut tidak bisa memberikan alasannya.
Di lain kesempatan istrinya tetap berulang kali menanyakan apa alasan suaminya
mencintai dia tapi sang suami tetap tidak bisa memberikan jawabannya. Akhirnya
sang istri ngambek dan membanding-bandingkan suaminya dengan suami
teman-temannya yang punya alasan untuk mencintai istrinya masing-masing.
Akhirnya suaminya berkata, “Aku mencintai kamu karena kamu cantik, suaramu
merdu, dan kamu selalu memperlakukanku dengan baik.” Sang istri merasa
tersanjung dan tersenyum puas atas jawaban suaminya.
Suatu ketika sang istri jatuh sakit, badannya lumpuh dan
tidak mampu berbicara lagi, hanya bisa berbaring saja di tempat tidur. Suaminya
dengan sabar dan telaten merawat istrinya tanpa pernah mengeluh. Sang istri
hanya bisa memandang suaminya dengan mata berkaca-kaca penuh haru. Lalu suatu
ketika sang suami duduk di sisi istrinya dan berkata dengan lembut, “Sayang,
kamu selalu mendesakku, menanyakan apa alasanku mencintai kamu. Tapi jika
seandainya alasan yang aku berikan waktu itu adalah benar alasan aku mencintai
kamu tentunya aku sudah meninggalkanmu sekarang. Lihat dirimu sekarang, wajahmu
yang pucat ini sama sekali tidak cantik lagi, kamu tidak bisa mengeluarkan
suara merdumu lagi, dan bagaimana bisa kamu memperlakukanku dengan baik lagi
jika menggerakkan tubuhmu saja kamu tidak bisa? Tapi aku tidak meninggalkanmu,
karena bukan itu alasan aku mencintai kamu. Perlukah alasan untuk mencintai
kamu? Satu-satunya alasan kenapa aku mencintai kamu adalah karena aku cinta
kamu.”
Dari cerita di atas bisa disimpulkan bahwa “Cinta itu tidak
perlu alasan”. Hmmm… benarkah demikian? Tapi menurut saya cinta itu punya
alasan. Apa alasannya? Cekidot!
Tapi sebenarnya saya agak ragu lebih baik memakai kata
“cinta” atau “sayang” saja, karena sebenarnya susah juga membedakan makna kedua
kata tersebut. Dan semua orang yang saya tanya tidak pernah memberikan jawaban yang memuaskan saya akan apa definisi
cinta itu. Intinya cinta itu selalu lebih “dalam” dari sayang. Bahkan dalam
bahasa Inggris, cinta dan sayang itu gak pernah diterjemahkan dalam dua kata
yang berbeda, hanya ‘Love’ saja. Juga dalam beberapa bahasa daerah yang saya
tau, tidak ada perbedaan terjemahan cinta dan sayang itu kedalam dua kata yang
berbeda. Tapi agar anda merasa puas, lebih baik saya memakai kata ‘cinta’ saja.
Kembali ke pokok bahasan. Apakah cinta punya alasan?
Saya sering melihat seorang anak yang menderita down syndrome
dengan fisik yang tidak sempurna dipapah dan dipeluk ibunya dari belakang,
melangkah perlahan-lahan, setapak-demi setapak, dengan sabar si ibu mengimbangi
langkah pelan si anak dan mengantarkannya sampai ke sekolah. Saya selalu kagum
melihat hal itu. Kalau itu benar cinta, berarti luar bisaa kekuatan cinta itu.
Kalau benar cinta itu tanpa alasan, berarti terbukti sudah karena seharusnya
tidak ada alasan bagi ibu itu untuk mencintai si anak yang tidak bisa
memberikan apa-apa kepada dia. Tapi kemudian saya melihat perbedaan, kenapa ibu
itu tidak memperlakukan hal yang sama pada anak “tidak sempurna” yang lain?
Bukankah anak yang lain itu juga tidak ada bedanya dengan anaknya? Sama-sama
tidak bisa memberikan apa-apa kepada dia. Jika cinta tidak punya alasan
seharusnya ibu itu juga mencintai anak yang lain itu dong. Dan lalu saya
temukan alasannya, ibu itu tidak memperlakukan dengan sama anak yang lain
adalah karena mereka bukan anak ibu itu!
Lalu saya menemukan fenomena yang lain. Sepasang insan yang
berpacaran dan katanya saling jatuh cinta bahkan sudah sering tercetus kalimat
‘I love you forever… ever and ever’, lalu suatu ketika mereka putus hubungan,
saling ‘move-on’ dan hilanglah cinta itu. Begitu juga dengan setiap pasangan
lain baik yang berpacaran ataupun menikah, mereka bakal dengan mudah melupakan
cinta itu setelah mereka dapat pengganti!
Dari berbagai hal tersebut akhirnya saya temukan alasannya.
Ibu itu mencintai si anak karena itu adalah anaknya. Seseorang mencintai
pacarnya karena itu adalah pacarnya. Suami mencintai istri karena itu adalah
istrinya. Bahkan saya mencintai motor butut saya karena itu adalah motor saya.
Dan akhirnya saya menyimpulkan apa alasan saya mencintai. Saya mencintai apa
yang saya miliki. Saya akan mencintai kekasih saya karena dia adalah kekasih
saya.
Jadi, anda sudah menemukan alasan untuk mencintai bukan?
Cintailah kekasih anda, cintailah suami/istri anda, cintailah orang tua anda,
cintailah teman-teman anda, cintailah pekerjaan anda, cintailah apa yang ada
pada diri anda. Jangan menujukan cinta anda ke tempat yang salah, misalnya
mencintai istri orang. Jika anda berpisah dengan kekasih anda, artinya anda
tidak punya alasan lagi untuk tetap mencintai dia, lanjutkan hidup anda dan
cintailah kekasih anda selanjutnya. Karena alasan anda untuk mencintai adalah
karena anda memilikinya.
Salam
cinta ;-)






1 komentar:
Benar sekali! :)
Posting Komentar