Sabtu, 30 November 2013

Perlukah alasan untuk mencintai?

PERLUKAH ALASAN UNTUK MENCINTAI?

By. Satta Peranginangin




Mungkin anda pernah mendengar cerita ini, tapi akan saya ceritakan kembali dengan versi saya sendiri. Suatu ketika seorang istri menanyakan kepada suaminya apa alasan suaminya mencintai dia. Tapi suaminya tersebut tidak bisa memberikan alasannya. Di lain kesempatan istrinya tetap berulang kali menanyakan apa alasan suaminya mencintai dia tapi sang suami tetap tidak bisa memberikan jawabannya. Akhirnya sang istri ngambek dan membanding-bandingkan suaminya dengan suami teman-temannya yang punya alasan untuk mencintai istrinya masing-masing. Akhirnya suaminya berkata, “Aku mencintai kamu karena kamu cantik, suaramu merdu, dan kamu selalu memperlakukanku dengan baik.” Sang istri merasa tersanjung dan tersenyum puas atas jawaban suaminya.
Suatu ketika sang istri jatuh sakit, badannya lumpuh dan tidak mampu berbicara lagi, hanya bisa berbaring saja di tempat tidur. Suaminya dengan sabar dan telaten merawat istrinya tanpa pernah mengeluh. Sang istri hanya bisa memandang suaminya dengan mata berkaca-kaca penuh haru. Lalu suatu ketika sang suami duduk di sisi istrinya dan berkata dengan lembut, “Sayang, kamu selalu mendesakku, menanyakan apa alasanku mencintai kamu. Tapi jika seandainya alasan yang aku berikan waktu itu adalah benar alasan aku mencintai kamu tentunya aku sudah meninggalkanmu sekarang. Lihat dirimu sekarang, wajahmu yang pucat ini sama sekali tidak cantik lagi, kamu tidak bisa mengeluarkan suara merdumu lagi, dan bagaimana bisa kamu memperlakukanku dengan baik lagi jika menggerakkan tubuhmu saja kamu tidak bisa? Tapi aku tidak meninggalkanmu, karena bukan itu alasan aku mencintai kamu. Perlukah alasan untuk mencintai kamu? Satu-satunya alasan kenapa aku mencintai kamu adalah karena aku cinta kamu.”
Dari cerita di atas bisa disimpulkan bahwa “Cinta itu tidak perlu alasan”. Hmmm… benarkah demikian? Tapi menurut saya cinta itu punya alasan. Apa alasannya? Cekidot!
Tapi sebenarnya saya agak ragu lebih baik memakai kata “cinta” atau “sayang” saja, karena sebenarnya susah juga membedakan makna kedua kata tersebut. Dan semua orang yang saya tanya tidak pernah memberikan  jawaban yang memuaskan saya akan apa definisi cinta itu. Intinya cinta itu selalu lebih “dalam” dari sayang. Bahkan dalam bahasa Inggris, cinta dan sayang itu gak pernah diterjemahkan dalam dua kata yang berbeda, hanya ‘Love’ saja. Juga dalam beberapa bahasa daerah yang saya tau, tidak ada perbedaan terjemahan cinta dan sayang itu kedalam dua kata yang berbeda. Tapi agar anda merasa puas, lebih baik saya memakai kata ‘cinta’ saja.
Kembali ke pokok bahasan. Apakah cinta punya alasan?
Saya sering melihat seorang anak yang menderita down syndrome dengan fisik yang tidak sempurna dipapah dan dipeluk ibunya dari belakang, melangkah perlahan-lahan, setapak-demi setapak, dengan sabar si ibu mengimbangi langkah pelan si anak dan mengantarkannya sampai ke sekolah. Saya selalu kagum melihat hal itu. Kalau itu benar cinta, berarti luar bisaa kekuatan cinta itu. Kalau benar cinta itu tanpa alasan, berarti terbukti sudah karena seharusnya tidak ada alasan bagi ibu itu untuk mencintai si anak yang tidak bisa memberikan apa-apa kepada dia. Tapi kemudian saya melihat perbedaan, kenapa ibu itu tidak memperlakukan hal yang sama pada anak “tidak sempurna” yang lain? Bukankah anak yang lain itu juga tidak ada bedanya dengan anaknya? Sama-sama tidak bisa memberikan apa-apa kepada dia. Jika cinta tidak punya alasan seharusnya ibu itu juga mencintai anak yang lain itu dong. Dan lalu saya temukan alasannya, ibu itu tidak memperlakukan dengan sama anak yang lain adalah karena mereka bukan anak ibu itu!
Lalu saya menemukan fenomena yang lain. Sepasang insan yang berpacaran dan katanya saling jatuh cinta bahkan sudah sering tercetus kalimat ‘I love you forever… ever and ever’, lalu suatu ketika mereka putus hubungan, saling ‘move-on’ dan hilanglah cinta itu. Begitu juga dengan setiap pasangan lain baik yang berpacaran ataupun menikah, mereka bakal dengan mudah melupakan cinta itu setelah mereka dapat pengganti!
Dari berbagai hal tersebut akhirnya saya temukan alasannya. Ibu itu mencintai si anak karena itu adalah anaknya. Seseorang mencintai pacarnya karena itu adalah pacarnya. Suami mencintai istri karena itu adalah istrinya. Bahkan saya mencintai motor butut saya karena itu adalah motor saya. Dan akhirnya saya menyimpulkan apa alasan saya mencintai. Saya mencintai apa yang saya miliki. Saya akan mencintai kekasih saya karena dia adalah kekasih saya.
Jadi, anda sudah menemukan alasan untuk mencintai bukan? Cintailah kekasih anda, cintailah suami/istri anda, cintailah orang tua anda, cintailah teman-teman anda, cintailah pekerjaan anda, cintailah apa yang ada pada diri anda. Jangan menujukan cinta anda ke tempat yang salah, misalnya mencintai istri orang. Jika anda berpisah dengan kekasih anda, artinya anda tidak punya alasan lagi untuk tetap mencintai dia, lanjutkan hidup anda dan cintailah kekasih anda selanjutnya. Karena alasan anda untuk mencintai adalah karena anda memilikinya.
            Salam cinta ;-)

1 komentar:

Anonim,  Minggu, 01 Desember, 2013  

Benar sekali! :)

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP